TARAKAN, Headlinews.id – UPT Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan resmi ditetapkan sebagai salah satu dari 29 sekolah model implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA) di Indonesia.
Penetapan tersebut menjadikan SKB Tarakan sebagai salah satu percontohan pendidikan nonformal yang akan mengimplementasikan konsep pembelajaran baru yang dikembangkan pemerintah.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Abdul Razaq, mengatakan SKB Tarakan menjadi satu-satunya satuan pendidikan nonformal di Kalimantan Utara yang terpilih dalam program tersebut.
“Di Indonesia ada sekitar 29 satuan pendidikan nonformal yang ditetapkan sebagai sekolah model. Alhamdulillah, untuk Kalimantan Utara salah satunya adalah SKB Kota Tarakan,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Menurut Razaq, penunjukan itu tidak terlepas dari kapasitas dan pengalaman SKB Tarakan dalam menyelenggarakan pendidikan kesetaraan. Selain memiliki status sebagai satuan pendidikan nonformal milik pemerintah daerah, jumlah warga belajar yang cukup besar juga menjadi salah satu pertimbangan.
“Jumlah warga belajar kami cukup banyak. Sekitar 380 warga belajar mengikuti program Paket A, Paket B, dan Paket C,” katanya.
Ia berharap status sekolah model tersebut dapat menjadikan SKB Tarakan sebagai rujukan bagi satuan pendidikan nonformal lainnya, khususnya di wilayah Kalimantan.
“Harapannya SKB Tarakan bisa menjadi percontohan dan menjadi referensi bagi lembaga pendidikan nonformal lainnya dalam mengembangkan kualitas pembelajaran,” lanjutnya.
Sementara itu, Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, menjelaskan sekolah model yang dimaksud berfokus pada implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA).
Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya menitikberatkan pada penggunaan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga mendorong penguatan kualitas proses belajar mengajar secara menyeluruh.
“Sekolah model ini adalah implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding-Kecerdasan Artifisial. Fokusnya bagaimana satuan pendidikan mampu menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dan menjadi contoh bagi lembaga lain,” jelasnya.
Patmaria menyebut terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam pengembangan sekolah model, yakni peningkatan kualitas belajar peserta didik, penguatan kualitas mengajar pendidik, serta kepemimpinan di lingkungan satuan pendidikan.
SKB Tarakan mulai menyiapkan berbagai langkah pembenahan agar implementasi program dapat berjalan optimal.
Salah satu langkah awal yang akan dilakukan adalah menyelaraskan visi dan misi lembaga dengan arah kebijakan sekolah model. Selain itu, program-program pembelajaran yang selama ini berjalan juga akan dievaluasi dan disesuaikan agar lebih berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
“Visi dan misi SKB akan kami sesuaikan. Harapannya seluruh program benar-benar berorientasi pada peserta didik sehingga lulusan SKB memiliki karakter yang baik, mandiri, dan percaya diri,” ujarnya.
Selain pembenahan pada aspek akademik dan tata kelola, SKB Tarakan juga berupaya memperkuat dukungan sarana dan prasarana.
Patmaria mengungkapkan sekolah model akan mendapatkan bantuan pemerintah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan kapasitas lembaga, meskipun nilainya tidak terlalu besar.
Menurutnya, bantuan tersebut akan dimaksimalkan untuk menunjang pelaksanaan program dan peningkatan mutu layanan pendidikan nonformal.
“Memang ada bantuan dari pemerintah, dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan kapasitas lembaga. Selain itu, kami juga memperoleh bantuan sarana dan prasarana melalui berbagai program yang sifatnya terbuka bagi satuan pendidikan yang memenuhi persyaratan,” ungkapnya
Meski demikian, pengembangan fasilitas masih menghadapi kendala keterbatasan lahan. Saat ini, area yang dimiliki SKB Tarakan dinilai belum memungkinkan untuk pembangunan gedung baru dalam skala besar atau penambahan kelas.
“Sebenarnya ada program revitalisasi yang mencakup perbaikan maupun penambahan bangunan. Namun lahan yang kami miliki masih terbatas sehingga pengembangan fasilitas belum bisa dilakukan secara maksimal,” ungkapnya.
Pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih lanjut, baik melalui revitalisasi bangunan yang ada maupun penyediaan lokasi baru yang memungkinkan pengembangan ruang belajar.
Patmaria menilai kebutuhan ruang yang lebih memadai akan mendukung peningkatan layanan pendidikan kesetaraan dan berbagai program pendidikan nonformal lainnya yang terus berkembang di Kota Tarakan.
“Harapan kami ke depan SKB memiliki fasilitas yang lebih representatif. Jika memungkinkan, ada dukungan lahan atau lokasi lain yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ruang belajar sehingga pelayanan kepada warga belajar dapat semakin optimal,” pungkasnya. (saf)










