TARAKAN, Headlinews.id – Kekosongan tenaga pengajar di sejumlah sekolah menjadi persoalan yang harus diantisipasi Dinas Pendidikan Kota Tarakan. Hingga Desember 2026, kebutuhan guru diperkirakan masih kurang sekitar 285 orang berdasarkan beban mengajar 24 jam per minggu.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Tamrin Toha, S.T., M.Sc., mengatakan kekurangan tersebut berkaitan dengan guru yang memasuki masa pensiun, berpindah tugas maupun meninggal dunia. Situasi tersebut membuat kebutuhan tenaga pengajar terus berubah dari waktu ke waktu.
“Perhitungan sampai Desember nanti menunjukkan masih ada kekurangan sekitar 285 guru. Angka itu dihitung dari kebutuhan pembelajaran dengan beban 24 jam mengajar dalam seminggu. Di sisi lain, ada guru yang pensiun, mutasi, dan ada juga yang meninggal,” kata Tamrin.
Persoalan semakin terasa karena sekolah tidak lagi memiliki keleluasaan merekrut tenaga honorer seperti sebelum 2025. Kebijakan pemerintah pusat dengan prinsip zero growth membatasi penambahan tenaga baru di lingkungan pemerintah daerah.
Tamrin mengatakan perubahan kebijakan tersebut membuat sekolah harus mencari alternatif ketika terjadi kekosongan pengajar. Salah satu pola yang dimanfaatkan Disdik adalah menggandeng Universitas Borneo Tarakan (UBT) melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
“Ruang untuk menambah tenaga baru sekarang memang berbeda dengan sebelumnya. Jadi kami mencari pola yang masih memungkinkan dilakukan. Salah satunya memanfaatkan program PLP dari FKIP UBT untuk membantu sekolah ketika ada kelas yang membutuhkan pendampingan,” ujarnya.
Mahasiswa yang mengikuti Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) ditempatkan di sekolah sesuai kebutuhan dan bidang pendidikan mereka. Kehadiran mahasiswa tersebut dimanfaatkan untuk membantu pelaksanaan pembelajaran selama program praktik berlangsung.
Tamrin menegaskan skema tersebut tidak dapat disamakan dengan pengangkatan guru. Mahasiswa PLP hanya menjalankan tugas praktik pendidikan sehingga keberadaannya tidak menjadi solusi permanen terhadap kebutuhan tenaga pendidik.
“Mahasiswa PLP posisinya tetap sebagai peserta praktik. Mereka membantu proses pembelajaran selama berada di sekolah, tetapi tidak menggantikan posisi guru secara permanen. Untuk kebutuhan jangka panjang, tetap diperlukan pemenuhan tenaga pendidik,” jelasnya.
Kebutuhan tenaga pengajar juga tidak tersebar merata pada seluruh mata pelajaran. Di tingkat SMP, sejumlah bidang studi masih mengalami kekurangan, antara lain Pendidikan Kewarganegaraan, Seni Budaya dan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Sebaliknya, kebutuhan guru olahraga saat ini masih relatif terpenuhi. Namun, Disdik tetap memperhitungkan kebutuhan beberapa tahun ke depan karena bidang tersebut memiliki kompetensi khusus.
“Guru olahraga untuk saat ini masih mencukupi. Tetapi kebutuhan ke depan tetap harus dihitung karena bidang olahraga memiliki kompetensi tersendiri. Tidak semua guru bisa langsung mengambil alih mata pelajaran tersebut,” tutur Tamrin.
Disdik Tarakan sebelumnya telah mengusulkan tambahan formasi guru untuk sekolah negeri. Pemenuhan kebutuhan tersebut tetap menunggu kebijakan pemerintah serta menyesuaikan kemampuan daerah dalam menyediakan tenaga pendidik.
Menurut Tamrin, penanganan kekurangan guru perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah dan mata pelajaran. Distribusi tenaga pendidik menjadi bagian penting agar kekosongan pada bidang tertentu tidak mengganggu proses belajar mengajar.
“Setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada mata pelajaran tertentu yang masih kekurangan guru, sehingga penempatannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Harapannya proses pembelajaran tetap berjalan dan kelas tidak sampai mengalami kekosongan pengajar,” pungkas Tamrin. (saf)






