TARAKAN, Headlinews.id – Kesiapan sistem layanan dan kepastian biaya logistik menjadi dua tantangan utama dalam pengembangan ekspor langsung dari Kalimantan Utara ke pasar internasional.
Kepala BKHIT Kalimantan Utara, Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan percepatan ekspor saat ini dilakukan melalui penguatan integrasi sistem lintas instansi, dengan penerapan SOP bersama dan aplikasi layanan terpadu.
“Pada prinsipnya secara sistem dan SOP, kami mencoba mengakselerasi ini dengan SOP bersama dan aplikasi bersama melalui SSM QC. Harapannya ini bisa menyatukan layanan yang sebelumnya terpisah, sehingga proses ekspor bisa lebih sederhana dan lebih cepat,” ujarnya, ditemui usai kegiatan akselerasi ekspor langsung di Tarakan, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, integrasi tersebut diharapkan dapat memangkas tahapan administrasi yang selama ini dilakukan di beberapa sistem berbeda. Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala teknis di lapangan yang perlu disempurnakan.
“Memang masih ada kendala teknis di beberapa bagian, tetapi ini tetap kita dorong agar bisa segera berjalan optimal. Prinsipnya adalah bagaimana semua proses bisa berada dalam satu sistem yang saling terhubung,” katanya.
Selain sistem layanan, kepastian harga logistik juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan rute ekspor langsung, khususnya melalui jalur udara yang mulai dijajaki operator kargo internasional.
Ichi menyebut, penerbangan kargo dari Tarakan ke Hong Kong yang kemudian terhubung ke sejumlah kota di China telah dilakukan dua kali, namun masih dalam tahap uji coba dengan keterisian muatan yang belum maksimal.
“Sudah dua kali penerbangan masuk, tapi memang masih kosong. Mereka masih dalam tahap uji coba jalur, sekaligus melihat potensi dan pola distribusi yang ada,” ujarnya.
Ia menilai secara geografis Kalimantan Utara memiliki posisi yang strategis karena lebih dekat ke kawasan Asia Timur dibandingkan jalur distribusi yang selama ini harus melalui kota besar di Indonesia.
“Kalau kita lihat secara geografis, Kaltara ini sangat dekat dengan China, Jepang, dan Korea. Jadi secara logika logistik, ini sebenarnya lebih efisien dibanding harus memutar lewat Jakarta atau Surabaya,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan keberhasilan pengembangan rute ekspor langsung sangat bergantung pada kepastian biaya logistik serta keterisian muatan secara berkelanjutan.
“Yang paling penting itu adalah harga logistik harus jelas dan kompetitif, kemudian muatan juga harus terisi. Karena kalau tidak terisi, tentu tidak akan berkelanjutan secara bisnis,” ujarnya.
Selain jalur udara, pemerintah juga tengah menjajaki optimalisasi jalur laut dengan memanfaatkan kapal kargo yang selama ini kembali ke negara tujuan dalam kondisi kosong.
“Selama ini ada kapal yang berangkat dan kembali dalam keadaan kosong. Ini yang sedang kita dorong agar bisa dimanfaatkan, supaya biaya logistik lebih efisien,” katanya.
Ichi menambahkan, jika sistem layanan sudah terkoneksi dengan baik dan biaya logistik dapat ditekan, maka ekspor langsung dari Kalimantan Utara berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, terutama bagi pelaku usaha di sektor perikanan dan komoditas daerah.
“Kalau rantai distribusi bisa dipangkas, dampaknya akan langsung terasa di tingkat petani dan nelayan. Nilai tambahnya akan meningkat karena tidak terlalu banyak perantara dalam proses distribusi,” pungkasnya. (saf)










