TARAKAN, Headlinews.id – Rencana penguatan kajian kebudayaan di Universitas Borneo Tarakan (UBT) mulai mengarah pada pembentukan Program Studi (Prodi) Kebudayaan. Opsi itu dipandang lebih memungkinkan dibanding pendirian fakultas baru yang membutuhkan pemenuhan berbagai prasyarat serta kesiapan jangka panjang.
Rektor UBT Tarakan, Prof. Yahya Ahmad Zein, mengatakan UBT selama ini telah melakukan berbagai kajian dan penelitian terkait pentingnya budaya, khususnya budaya di Kalimantan Utara (Kaltara), sebagai bagian yang dapat mendukung pembangunan daerah ke depan.
Menurutnya, pembahasan mengenai penguatan pendidikan kebudayaan tidak muncul dalam waktu singkat, tetapi berangkat dari kebutuhan menghadirkan ruang akademik yang mampu mengkaji, mengembangkan, sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal secara lebih terstruktur.
“Selama ini Universitas Borneo sudah banyak melakukan kajian, penelitian terkait dengan pentingnya budaya, khususnya di Kalimantan Utara dalam mendukung pembangunan Indonesia ke depan, khususnya di Kalimantan Utara,” ujarnya.
Meski demikian, Yahya menegaskan arah pengembangan tersebut belum mengarah pada pembentukan fakultas baru. Menurutnya, pendirian fakultas membutuhkan proses yang lebih panjang karena harus didukung berbagai kajian dan kesiapan institusi.
Ia menjelaskan terdapat sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, dukungan sarana dan prasarana, hingga keberlanjutan penyelenggaraan program dalam jangka panjang.
“Untuk mendirikan fakultas itu tidak mudah karena harus butuh kajian-kajian khusus termasuk kebutuhan sumber daya manusia, kemudian sarana prasarana, dan yang paling penting adalah keberlanjutan atau sustainability dari fakultas tersebut,” katanya.
Dari hasil kajian internal yang dilakukan bersama sistem penjaminan mutu kampus, pembentukan program studi dinilai menjadi opsi yang paling memungkinkan untuk dikembangkan pada tahap awal.
Program studi tersebut nantinya dirancang untuk secara khusus mengakomodasi bidang kebudayaan dan membuka ruang pengembangan keilmuan yang lebih fokus terhadap budaya daerah.
“Nah, kami sudah mengkaji secara internal dengan penjaminan mutu, memang yang paling memungkinkan adalah program studi. Jadi program studi yang nanti mengakomodir, atau program studi khusus terkait dengan budaya ini,” ujarnya.
UBT juga membuka kemungkinan program studi tersebut berada di bawah Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP). Namun hingga saat ini, rancangan tersebut masih dalam tahap pendalaman dan belum masuk tahap implementasi.
“Mungkin nanti ada di bawah Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan. Program studi budaya, tapi kita masih kaji,” katanya.
Menurut Yahya, keberadaan program studi kebudayaan nantinya diharapkan tidak hanya memperluas pilihan pendidikan tinggi di Kaltara, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pelestarian budaya melalui jalur akademik.
Ia menilai ruang pendidikan tinggi dapat berperan dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal melalui penelitian, pengembangan pengetahuan, serta dokumentasi yang lebih sistematis.
“Artinya memang ada peluang dan ada ruang untuk membuka program studi ini, tapi ini masih langkah awal yang harus terus kita kaji,” katanya.
Yahya menambahkan, kebutuhan terhadap ruang pendidikan yang secara khusus membahas budaya menunjukkan pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial semata, tetapi juga membutuhkan dukungan pengembangan keilmuan.
“Program studi budaya ini sebagai bagian nanti yang akan memperkuat, melestarikan, menjaga budaya-budaya di Kalimantan Utara,” tutupnya. (saf)










