TARAKAN, Headlinews.id– Warga di kawasan padat Markoni dibuat panik oleh kebakaran sampah yang memicu suara letupan bambu kering, Kamis (8/10/2026). Petugas menerima informasi, api diduga berasal dari pembakaran sampah yang dilakukan seorang warga berinisial D.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Satpol PP dan PMK Kota Tarakan, Eko Supriatnoko, mengatakan informasi dari masyarakat mengarah pada dugaan bahwa kejadian tersebut merupakan kali kedua pembakaran serupa dilakukan orang yang sama.
“Informasi yang kami terima dari masyarakat, kejadian seperti ini sudah dua kali. Sebelumnya juga pernah ada pembakaran, tetapi waktu itu masih bisa dipadamkan oleh warga sekitar. Sekarang kembali terjadi dan apinya sempat membesar karena mengenai bambu yang sudah ditebang dan dalam kondisi kering,” ujar Eko.
Kebakaran terjadi di Jalan Imam Bonjol Gang 3, Markoni. Dari informasi yang diterima petugas, warga berinisial D diduga melakukan pembakaran sampah lalu meninggalkan lokasi.
Warga juga menyebut D mengalami gangguan kejiwaan. Informasi tersebut masih akan dikoordinasikan dengan pihak terkait dan belum menjadi kesimpulan mengenai orang yang bertanggung jawab atas kebakaran.
“Warga memang menyampaikan ada seseorang yang diduga melakukan pembakaran. Mereka juga menyebut yang bersangkutan mengalami gangguan kejiwaan. Tetapi ketika kami tanyakan, tidak ada video, kamera atau bukti lain yang bisa memastikan. Jadi kami tidak bisa langsung menyimpulkan,” jelas Eko.
Saat petugas tiba, warga yang disebut dalam informasi tersebut tidak lagi berada di lokasi. Berdasarkan informasi yang diterima Eko, warga tersebut masih tinggal di sebuah pondok di kawasan tersebut.
“Karena tidak ada bukti yang bisa kami pastikan sendiri, langkah selanjutnya kami serahkan untuk dikoordinasikan dengan pihak yang berwenang,” katanya.
Laporan awal diterima petugas sekitar pukul 11.48 WITA dan menyebut adanya kebakaran sampah di Markoni, Jalan Imam Bonjol Gang 3. Saat itu, Eko bersama sejumlah petugas sedang mengikuti kegiatan edukasi mitigasi bencana di Karang Balik.
“Kebetulan ada anggota Satpol PP yang tinggal dekat lokasi dan informasi itu langsung diteruskan ke regu. Setelah bergerak, petugas tiba sekitar pukul 11.55 WITA. Begitu sampai, kami langsung melakukan size up untuk melihat kondisi kebakaran dan akses menuju titik api,” jelasnya.
Dari penilaian awal, gang menuju titik kebakaran cukup sempit sehingga kendaraan pemadam tidak dapat masuk hingga mendekati lokasi. Petugas kemudian menggelar selang dari posisi armada menuju titik api dengan panjang sekitar 150 meter.
Empat armada dikerahkan dalam penanganan tersebut. Dua unit berasal dari sektor Barat dan dua unit dari Mako, masing-masing terdiri dari pasangan kendaraan fire dan supply.
“Karena jalannya sempit, selang harus kami gelar cukup panjang sampai ke titik kebakaran. Kurang lebih 150 meter. Kami memang sudah punya pemetaan lokasi-lokasi yang sulit dijangkau langsung oleh unit fire, sehingga kondisi seperti ini sudah menjadi bagian dari perhitungan kami di lapangan,” ungkap Eko.
Menurutnya, akses menjadi persoalan penting karena lokasi berada di tengah permukiman padat. Sejumlah rumah berdiri berdekatan dan terdapat bangunan berbahan kayu di sekitar titik kebakaran.
“Ini kawasan padat penduduk dan aksesnya sulit. Kalau informasi terlambat kami terima, bisa lain ceritanya. Di sekitar lokasi ada rumah kayu dan bangunan yang cukup berdekatan. Kecepatan informasi dan respons awal sangat membantu kami mengendalikan api,” katanya.
Api berhasil dikendalikan sekitar pukul 12.20 hingga 12.24 WITA. Petugas tidak langsung meninggalkan lokasi karena masih melakukan pendinginan selama sekitar setengah jam untuk memastikan tidak ada asap maupun bara yang tersisa.
“Setelah api berhasil dikendalikan, kami lanjutkan pendinginan sekitar setengah jam. Kami pastikan benar-benar sudah tidak ada asap dan bara yang tersisa. Setelah itu baru kami pastikan lokasi aman,” ujar Eko.
Informasi mengenai dugaan kejadian berulang tersebut menjadi bahan koordinasi dengan Satpol PP dan pihak kelurahan. Kasi Trantib kelurahan disebut turut hadir ketika petugas melakukan penanganan di lokasi.
Eko mengatakan pihaknya berharap warga yang disebut dalam informasi masyarakat dapat dipanggil untuk diberikan edukasi. Langkah tersebut diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan berpotensi membahayakan permukiman di sekitarnya.
“Kami akan koordinasikan dengan teman-teman Pol PP dan pihak kelurahan. Harapan kami ada pemanggilan dan edukasi kepada yang bersangkutan. Kalau memang informasi dari masyarakat itu benar dan kejadian seperti ini sudah berulang, perlu ada penanganan bersama supaya tidak kembali membahayakan lingkungan,” pungkas Eko. (saf)








