TARAKAN, Headlinews.id – Tekanan harga pangan belum cukup menekan optimisme konsumen di Kalimantan Utara. Inflasi September tercatat 0,37 persen secara bulanan, sementara Indeks Keyakinan Konsumen masih mencapai 118,74.
Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus yang berada di level 0,23 persen. Secara tahunan, inflasi Kaltara tercatat 2,56 persen dan masih berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara Agus Taufik mengatakan, kenaikan inflasi September terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,30 persen.
“Kalau kita lihat September ini, tekanan utamanya memang datang dari kelompok makanan, terutama cabai rawit. Pasokannya dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan berkurang karena kondisi kekeringan dan kemarau yang cukup panjang,” kata Agus.
Kenaikan harga juga terjadi pada telur ayam ras, daging ayam ras, jagung manis dan cabai merah. Untuk telur dan daging ayam ras, tekanan harga dipengaruhi kenaikan di tingkat distributor serta pasokan dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Berau.
“Untuk telur dan daging ayam, ada pengaruh dari harga di tingkat distributor dan juga pasokan dari luar daerah. Jadi kondisi pasokan memang menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Di sisi lain, tarif angkutan udara menjadi salah satu penahan inflasi dengan andil deflasi 0,03 persen. Harga sawi hijau, bayam dan kacang panjang juga turun seiring meningkatnya pasokan dari petani lokal yang mulai memasuki masa panen.
Di tengah tekanan harga tersebut, keyakinan konsumen masih terjaga. IKK September mencapai 118,74, naik dari 118,06 pada Agustus. IEK juga meningkat dari 126,85 menjadi 128,25, sedangkan IKE sedikit turun dari 109,26 menjadi 109,22.
“Kalau melihat survei konsumen, masyarakat masih cukup optimistis. IKK kita naik dari 118,06 menjadi 118,74, dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan juga meningkat,” jelas Agus.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga pada sejumlah komoditas belum mengubah optimisme masyarakat secara keseluruhan.
“Memang ada tekanan dari harga pangan, tetapi secara umum keyakinan konsumen masih berada di atas level 100. Artinya, masyarakat masih melihat kondisi ekonomi ke depan dengan cukup positif,” katanya.
Pengendalian inflasi dilakukan TPID se-Kaltara melalui kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif. Sepanjang 2026, sebanyak 225 kegiatan pasar murah telah dilaksanakan di wilayah Kaltara.
BI Kaltara bersama pemerintah daerah juga mendorong penerapan Good Agriculture Practices untuk komoditas cabai serta memperkuat distribusi pangan melalui Mini Distribution Center (MDC) – Kios Tarakan Hibot.
“Pengendalian inflasi dilakukan dengan melihat kondisi di lapangan, terutama pasokan dan distribusi komoditas pangan. Langkah seperti pasar murah, penguatan produksi dan distribusi tetap diperlukan agar kenaikan harga tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar,” pungkas Agus. (rs)










