TARAKAN, Headlinews.id – Luasan kebakaran lahan yang ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan sejak awal tahun mencapai sekitar 24 hektar. Memasuki periode cuaca kering yang diperkirakan berlangsung hingga awal September, BPBD menilai aktivitas pembukaan dan pembersihan lahan masih menjadi faktor yang memperbesar risiko kebakaran.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, mengatakan akumulasi 24 hektar tersebut berasal dari sejumlah kejadian kebakaran lahan yang ditangani sepanjang tahun, termasuk peristiwa terbaru di Juata Permai dan Pantai Amal.
“Kalau diakumulasi semuanya dengan kejadian terakhir kemarin itu sekitar 24 hektar yang sudah ditangani oleh BPBD,” katanya.
Dalam dua kejadian terakhir, BPBD menangani empat titik kebakaran. Satu titik terjadi pada Jumat di kawasan Juata Permai yang berada dekat permukiman warga dengan luasan sekitar 1 hektar. Sementara pada Minggu, kebakaran muncul di tiga titik di RT 14 Pantai Amal dengan total luasan sekitar 3 hingga 3,5 hektar.
Yonsep menyebut kondisi cuaca kering yang berlangsung di Tarakan membuat lahan lebih mudah terbakar. Namun, menurutnya, faktor pemicu juga berasal dari aktivitas masyarakat saat membuka dan membersihkan lahan.
“Memang kejadiannya itu karena kebiasaan masyarakat di dalam musim kekeringan selalu membakar lahannya untuk membuka kebun, membersihkan kebun. Karena tidak terkendali, merambat ke area sekitarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan proses penanganan di lapangan tidak selalu berjalan mudah. Kendala utama berasal dari keterbatasan sumber air dan akses menuju titik kebakaran.
“Yang menjadi masalah itu sumber air. Untuk memasuki lahan juga mengalami kesulitan karena akses jalan,” ucapnya.
Meski demikian, petugas tetap dapat menjangkau titik api menggunakan sumber air terdekat dan peralatan portabel. Untuk kebakaran di Pantai Amal, proses pemadaman berlangsung sekitar tiga jam, sedangkan di Juata Permai sekitar dua jam.
Yonsep memastikan seluruh titik kebakaran tersebut tidak masuk kawasan hutan lindung meski berada di area yang berdekatan. Pengendalian dilakukan bersama unsur TNI, Polri, dan pihak kehutanan agar api tidak meluas.
“Tidak masuk, hanya mendekati kawasan hutan lindung. Karena ada kerja sama dengan TNI, Polri, dan kehutanan sehingga bisa dihadang langsung di area yang mendekati kawasan,” katanya.
BPBD mencatat Pantai Amal menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran lahan yang paling sering ditangani sepanjang tahun ini. Selain kejadian terbaru, pada April lalu petugas juga menangani kebakaran di kawasan Sungai Kuli dengan luasan sekitar 13 hektar.
“Kalau untuk yang terbanyak itu wilayah Amal. Di bulan April kita menangani yang di Sungai Kuli sekitar 13 hektar,” ujarnya.
Selain cuaca kering, kondisi wilayah turut memperbesar risiko penyebaran api.
“Kontur tanahnya memang pasir, cepat kering. Amal posisinya terbuka dan anginnya cukup kencang sehingga cukup menyulitkan penanganan kebakaran,” katanya.
BPBD memperkirakan potensi kebakaran masih perlu diantisipasi dalam beberapa bulan ke depan.
“Kalau berdasarkan prakiraan cuaca, kita sudah memasuki cuaca kering sampai awal September,” ucap Yonsep.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD telah menyampaikan imbauan melalui pemerintah kelurahan dan kecamatan agar masyarakat lebih berhati-hati saat membuka lahan. Masyarakat diminta menyiapkan alat pemadaman sederhana dan membuat pembatas agar api tidak merambat.
Yonsep juga meminta masyarakat berkoordinasi lebih awal apabila akan membuka lahan agar petugas dapat mengantisipasi potensi kebakaran sebelum meluas.
“Kalau membuka lahan dan mengalami kesulitan, lapor dulu ke kami atau ke pihak kehutanan supaya bisa membantu mengantisipasi agar kebakaran tidak semakin meluas. Kalau terjadi kebakaran segera menghubungi 112 supaya penanganan lebih cepat,” tutupnya. (saf)










