TARAKAN, Headlinews.id – Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan. Hingga saat ini, tenaga pendidik yang tercatat di SKB hanya sekitar 15 orang untuk menangani seluruh layanan pendidikan nonformal, mulai dari PAUD hingga Paket A, B, dan C.
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, menjelaskan bahwa struktur tenaga pendidik di SKB terbagi dalam dua kategori, yakni pamong dan tutor.
Pamong merupakan pendidik yang berstatus di SKB, sedangkan tutor adalah tenaga pengajar dari luar satuan pendidikan yang ikut membantu proses pembelajaran.
“Kalau di SKB itu untuk yang PNS-nya disebut pamong, sedangkan yang bukan penempatan induknya di SKB itu kita sebut tutor. Total pendidik kami kurang lebih 15 orang untuk semua jenjang, mulai dari PAUD, Paket A, B, dan C,” ujar Patmaria.
Ia menjelaskan, keterbatasan jumlah tenaga pendidik tersebut ditopang oleh keterlibatan guru-guru aktif dari berbagai jenjang pendidikan formal, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Tidak hanya itu, pengawas pendidikan serta unsur instansi pemerintah juga turut terlibat sebagai pengajar di SKB di luar jam kerja mereka.
“Mereka ini membantu kami secara sukarela di luar jam kerja. Ada guru SD, SMP, SMA, dosen, sampai pengawas dinas pendidikan yang ikut terlibat dalam proses pembelajaran di SKB,” katanya.
Patmaria menuturkan, kolaborasi lintas profesi tersebut sudah berlangsung sejak awal berdirinya SKB Kota Tarakan.
Pada fase awal, operasional lembaga pendidikan nonformal ini bahkan berjalan dengan keterbatasan dukungan pembiayaan, sehingga sangat bergantung pada partisipasi relawan pendidikan.
“Sejak awal SKB berdiri, kami memang sangat bergantung pada relawan pendidikan. Bahkan dulu kami tidak memiliki dukungan dana yang memadai, jadi semuanya berjalan karena kepedulian dan kerelaan mereka untuk terlibat dalam dunia pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, seiring berjalannya waktu, skema kerja sama dan dukungan terhadap kegiatan SKB mulai berkembang, termasuk adanya pengaturan insentif bagi sebagian tenaga pendidik sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, kontribusi relawan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan proses belajar.
Ia menegaskan, keberadaan guru relawan dan kolaborasi lintas institusi menjadi faktor yang sangat menentukan dalam memastikan layanan pendidikan di SKB tetap berjalan, meskipun dengan keterbatasan SDM.
“Kalau tanpa mereka, tentu akan sangat berat. Karena memang sejak awal SKB ini berdiri dari semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap pendidikan,” tutupnya. (*/saf)








