TARAKAN, Headlinews.id – Status Siaga Darurat kekeringan di Kota Tarakan telah dicabut setelah hujan kembali turun dan kondisi sumber air baku berangsur normal. Namun, Pemerintah Kota Tarakan masih menghadapi keterbatasan cadangan air karena kapasitas embung saat ini diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan hingga sekitar 15 hari tanpa hujan.
Sekretaris Daerah Kota Tarakan, Abdul Aziz Hasan menjelaskan pencabutan status tersebut dilakukan setelah Tim Kaji Cepat mengevaluasi kondisi sumber air dan memperoleh data terbaru dari Perumda Tirta Alam maupun BMKG. Hasil evaluasi menunjukkan kondisi pelayanan air bersih telah kembali normal sehingga masa siaga tidak diperpanjang.
“Sekarang sudah normal kembali. Dari informasi PDAM, embung-embung yang menjadi sumber air baku untuk instalasi pengolahan air juga sudah terisi dan sebagian besar pelayanan sudah normal,” ujar Abdul Aziz, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, Pemerintah Kota Tarakan tetap menggunakan skenario dalam Rencana Kontinjensi sebagai acuan menghadapi kekeringan. Dalam dokumen tersebut, kondisi tanpa hujan selama 10 hingga 15 hari menjadi indikator bagi pemerintah untuk melakukan kajian cepat terhadap potensi gangguan ketersediaan air.
Abdul Aziz menyebut kondisi sebelumnya sempat mengarah pada risiko penurunan pelayanan. Data dari PDAM saat itu menunjukkan kemampuan pelayanan telah turun sekitar 50 persen dan berpotensi kembali menurun apabila hujan tidak turun dalam beberapa hari berikutnya.
“Waktu itu PDAM menyampaikan kemampuan pelayanannya sudah sekitar 50 persen. Kalau dalam tiga hari berikutnya tidak ada hujan, kondisinya bisa turun lagi sampai 20 persen bahkan 10 persen. Itu yang kemudian kita jadikan dasar untuk menetapkan siaga,” jelasnya.
Kini, kondisi sumber air baku telah membaik. Meski demikian, kapasitas tampungan yang ada belum memberikan cadangan panjang apabila periode tanpa hujan kembali terjadi. Berdasarkan perhitungan dalam Rencana Kontinjensi, embung di Tarakan diperkirakan mampu menopang kebutuhan air sekitar 15 hari tanpa tambahan hujan.
“Kalau sampai 15 hari tidak ada hujan, kita harus kembali melihat kondisinya dan melakukan langkah penanganan. Jadi kemampuan tampungan yang ada memang masih terbatas,” tuturnya.
Kondisi tersebut berkaitan dengan jumlah embung yang tersedia di Tarakan. Abdul Aziz menyebut saat ini terdapat lima embung, sementara kajian Balai Wilayah Sungai (BWS) menyebut kebutuhan ideal Tarakan mencapai sekitar 10 embung.
“Kalau berdasarkan kajian BWS, Tarakan ini minimal perlu sekitar 10 embung. Sekarang baru ada lima. Artinya memang kapasitas tampungannya masih belum kuat untuk menghadapi kondisi kekeringan yang lebih panjang,” katanya.
Untuk jangka panjang, Pemkot Tarakan telah mengidentifikasi tiga pilihan, yakni menambah jumlah embung, mendatangkan air baku dari wilayah Bulungan atau Kabupaten Tana Tidung, serta menggunakan teknologi desalinasi air laut. Dari tiga pilihan tersebut, penambahan embung disebut paling memungkinkan dilakukan secara bertahap meski tetap membutuhkan anggaran besar.
“Yang paling bisa dicicil sebenarnya penambahan embung. Semua pilihan membutuhkan biaya besar, tetapi pembangunan embung bisa dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran,” ujar Abdul Aziz.
Sementara sumber air baku dari Bulungan atau Tana Tidung dinilai memiliki kapasitas lebih besar karena mengandalkan sumber air sungai. Opsi desalinasi air laut juga telah ditawarkan sejumlah investor, tetapi membutuhkan biaya pengolahan yang tinggi.
Persoalan anggaran menjadi salah satu kendala dalam merealisasikan rencana jangka panjang tersebut. Di sisi lain, kebutuhan air bersih Tarakan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
“Perencanaannya sebenarnya sudah ada. Beberapa titik juga sudah pernah ditinjau. Persoalannya sekarang lebih kepada eksekusi dan kemampuan anggaran, apalagi kondisi efisiensi anggaran juga berpengaruh,” pungkasnya. (saf)







