TARAKAN, Headlinews.id – Pemenuhan tenaga pengajar menjadi pekerjaan rumah Universitas Borneo Tarakan (UBT) dalam mewujudkan rencana pembukaan Program Studi (Prodi) Kebudayaan. Kampus menilai dosen yang terlibat nantinya tidak hanya harus memenuhi syarat akademik, tetapi juga memahami konteks budaya di Kalimantan Utara.
Rektor UBT Tarakan, Prof. Yahya Ahmad Zein, mengatakan kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor yang menentukan sebelum program studi tersebut dapat dijalankan.
Menurutnya, terdapat ketentuan akademik yang mengharuskan ketersediaan tenaga pengajar dengan latar belakang pendidikan yang sesuai dan memiliki fokus pada bidang kebudayaan.
“Nah, sekarang Universitas Borneo itu kan syarat utamanya dari sisi SDM itu minimal harus ada lima dosen yang fokus di bidang budaya, atau lulusan minimal S2 di bidang budaya. Nah, kami baru punya tiga, jadi harus ada dua lagi dari sisi SDM,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat UBT masih perlu melakukan penguatan SDM secara bertahap. Di satu sisi terdapat peluang untuk mengembangkan ruang akademik di bidang kebudayaan, namun di sisi lain pemenuhannya tidak dapat dilakukan secara instan.
Yahya mengakui kebutuhan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena pola rekrutmen tenaga pengajar di perguruan tinggi negeri harus mengikuti mekanisme yang berlaku secara nasional.
“Secara nasional polanya tentu melalui rekrutmen CPNS. Karena P3K juga sudah tidak bisa lagi, maka saya kira ke depan kami berupaya nanti membuka formasi secara khusus di Universitas Borneo,” katanya.
Sebagai langkah awal, kampus juga membuka kemungkinan menempatkan terlebih dahulu calon tenaga pengajar pada program studi yang telah berjalan sebelum nantinya diarahkan sesuai kebutuhan bidang kebudayaan.
“Mungkin kita akan titipkan dulu ke prodi-prodi lain. Memang ini dilema, satu sisi tadi ada kebutuhan, di sisi lain ada keterbatasan, terutama dalam pola rekrutmen,” ujarnya.
Meski kebutuhan jumlah dosen menjadi perhatian, Yahya menegaskan kualitas pengajar tetap menjadi aspek yang tidak bisa ditawar.
Menurutnya, tenaga pendidik yang nantinya terlibat tidak cukup hanya memenuhi syarat formal secara akademik, tetapi juga perlu memahami dinamika sosial dan praktik budaya yang berkembang di masyarakat, khususnya di Kalimantan Utara.
“Kita berharap nanti mereka yang mengisi itu, ya mereka yang paham soal budaya di Kalimantan Utara. Sehingga menjadi penguat SDM dosen yang tentu saja tidak cukup hanya memiliki pengetahuan akademik, tapi juga memiliki pengetahuan empiris terkait budaya secara nasional dan khusus lagi secara khusus di Kalimantan Utara,” katanya.
Selain menyiapkan dosen tetap, UBT juga membuka peluang keterlibatan tokoh budaya, praktisi, maupun pihak di luar kampus untuk memperkuat proses pembelajaran.
Pelibatan tersebut direncanakan melalui skema Praktisi Mengajar dan kuliah umum yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman serta perspektif langsung dari pelaku budaya.
Menurut Yahya, pola tersebut sudah mulai diterapkan kampus dan tetap berpeluang digunakan apabila Program Studi Kebudayaan nantinya terealisasi.
“Saya kira skemanya masih memungkinkan karena kita ada Praktisi Mengajar. Tahun ini kami juga sudah melakukan itu dan tahun 2027 nanti juga akan dilakukan. Kalau program studi ini sudah berjalan, tidak menutup kemungkinan melibatkan stakeholder melalui Praktisi Mengajar maupun praktisi kuliah umum,” tutupnya. (saf)







