TARAKAN, Headlinews.id – Kawasan Pantai Amal dan sekitarnya disebut menjadi salah satu wilayah langganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tarakan. Kondisi lahan gambut yang luas membuat aparat bersama instansi terkait terus memperkuat langkah pencegahan karhutla.
Bahkan pada Maret 2026 lalu, kebakaran lahan di kawasan Binalatung, Pantai Amal, disebut menjadi salah satu karhutla terluas di Tarakan dengan luasan mencapai sekitar 6 hektare.
“Yang harus diantisipasi sekarang ini masyarakat supaya tidak melakukan pembakaran lahan sesuai kemauan sendiri. Membuka lahan jangan dengan cara membakar tanpa pengawasan. Kalau apinya tidak dijaga, apalagi saat angin kencang, bisa pindah dan merembet ke lahan orang lain,” ujar Kapospol Pantai Amal, M. Arsyad.
Ia mengatakan, pihaknya saat ini fokus menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran lahan di wilayah Pantai Amal dan sekitarnya.
Wilayah pengawasan juga mencakup Kampung Enam, Kampung Satu, sebagian Juata Laut, hingga kawasan Binalatung dan Andulung yang selama ini dikenal rawan karhutla.
Menurutnya, warga yang hendak membersihkan lahan biasanya diminta melapor terlebih dahulu kepada aparat setempat. Pembakaran dilakukan secara terbatas dengan pengawasan ketat agar api tidak merembet ke lahan lain.
“Kalau memang ada pembakaran, mereka harus menjaga sampai apinya benar-benar padam sebelum ditinggalkan. Biasanya juga disiapkan alat semprot untuk antisipasi kalau api mulai pindah,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi cuaca dan arah angin sebelum melakukan aktivitas di lahan terbuka. Sebab, angin kencang dapat mempercepat penyebaran api ke area lain dan merembet ke lahan milik warga lainnya.
Arsyad mengungkapkan, sebagian besar wilayah Pantai Amal merupakan lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan apabila api sudah merambat ke lapisan bawah tanah.
“Kalau di Amal itu rata-rata gambut. Yang paling tebal itu daerah Binalatung sampai Andulung dan ke arah Juata Laut,” ungkapnya.
Menurutnya, karakteristik lahan gambut membuat api kerap masih menyala di bawah permukaan tanah meski bagian atas terlihat padam.
“Kadang apinya sudah kelihatan mati, tapi di bawah masih hidup. Itu yang susah,” katanya.
Ia memperkirakan hampir separuh wilayah Pantai Amal termasuk kawasan rawan kebakaran. Beberapa titik yang sering mengalami karhutla berada di RT 2, RT 3, RT 6, RT 7, RT 8, RT 10, RT 11, RT 12 hingga RT 14 dan RT 15.
Meski demikian, sebagian besar lokasi kebakaran berada jauh dari permukiman warga dan lebih banyak berupa area kebun.
“Memang daerah situ tidak ada permukiman, hanya pondok-pondok kebun saja. Jadi kalau terjadi kebakaran lahan memang agak jauh dari perumahan,” jelasnya.
Selain mengimbau warga tidak membakar lahan, aparat juga mendorong masyarakat membuat sumber penampungan air sederhana di sekitar area kebun sebagai langkah antisipasi saat musim kemarau.
Selama ini warga memanfaatkan parit dan kolam alami sebagai sumber air pemadaman darurat. Namun kondisi tersebut juga kerap menjadi kendala ketika musim kemarau berlangsung cukup lama.
“Kalau sudah satu minggu sampai sepuluh hari tidak hujan, penampungan air itu juga bisa kering,” ujarnya.
Dalam penanganan karhutla, pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan sejumlah instansi seperti pemadam kebakaran, BPBD, Korlap Karhutla, dan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan. Informasi kejadian kebakaran biasanya langsung disampaikan melalui grup komunikasi kebencanaan untuk mempercepat respons penanganan.
“Kalau ada kejadian, tinggal kami informasikan ke grup bencana Tarakan dan sejauh ini responsnya cukup cepat,” katanya.
Meski begitu, ia mengakui beberapa titik kebakaran berada di lokasi cukup jauh sehingga membutuhkan waktu tempuh bagi petugas menuju area kebakaran.
Selain faktor jarak, petugas juga masih mengalami kendala dalam mengungkap pelaku pembakaran lahan karena minim saksi di lokasi kejadian.
“Biasanya setelah terlihat asap baru diketahui ada kebakaran lahan. Hambatannya memang tidak ada saksi yang melihat langsung siapa yang membakar,” tutupnya. (saf)










