TARAKAN, Headlinews.id – Dinas Pendidikan Kota Tarakan menegaskan pendidikan kesetaraan tidak dapat dipandang sebagai jalur bagi peserta didik yang gagal dalam pendidikan formal, melainkan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang memberikan alternatif sesuai karakter dan pola belajar peserta didik.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Abdul Razaq, mengatakan masih terdapat pemahaman yang keliru di masyarakat terkait pendidikan kesetaraan seperti Paket A, Paket B, dan Paket C.
“Anak-anak itu bukan gagal, bukan anak-anak yang tertinggal, tapi mereka belum menemukan pola belajar yang sesuai dengan dirinya. Jadi bukan soal gagal, tetapi soal kecocokan cara belajar. Karena setiap anak itu punya karakter yang berbeda-beda dalam menerima pembelajaran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap peserta didik memiliki karakter yang berbeda dalam menerima pembelajaran, sehingga tidak semua dapat dipaksakan mengikuti pola pendidikan formal yang sama.
Menurutnya, pendidikan kesetaraan hadir untuk memberikan ruang belajar yang lebih fleksibel dan tidak membebani peserta didik dengan sistem yang kaku.
“Di sini kita melihat anak-anak itu punya cara belajar masing-masing. Ada yang memang cocok dengan pembelajaran formal, tetapi ada juga yang lebih cocok dengan pola belajar yang lebih mandiri, yang lebih fleksibel sesuai kondisi mereka,” katanya.
Razaq menegaskan ijazah pendidikan kesetaraan melalui Paket A, Paket B, dan Paket C memiliki kedudukan yang setara dengan pendidikan formal, sehingga dapat digunakan baik untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
“Paket itu bisa dipakai untuk semua. Sama sebenarnya dengan formal. Ijazahnya sama, setara. Yang berbeda hanya model pembelajarannya saja, karena menyesuaikan dengan karakter peserta didik masing-masing,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, dalam sistem pendidikan nonformal, proses pembelajaran lebih menekankan pendampingan dibandingkan metode pengajaran satu arah seperti di sekolah formal.
“Kalau di formal itu ada guru dengan sistem pembelajaran yang lebih terstruktur, sedangkan di sini lebih banyak pendampingan. Jadi prosesnya tidak kaku, lebih menyesuaikan kondisi peserta didik,” ujarnya.
Razaq menekankan pendidikan juga harus dipahami sebagai proses yang menyenangkan, bukan sebagai beban bagi peserta didik.
“Ilmu itu bukan beban. Menuntut ilmu itu harus ditanamkan sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan tekanan. Jadi siapa pun, kapan pun, tetap bisa belajar karena ilmu itu kebutuhan sepanjang hidup,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah terus membuka akses pendidikan seluas-luasnya, agar tidak ada warga yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena perbedaan cara atau kemampuan dalam menerima pembelajaran.
“Yang paling penting itu adalah membuka akses pendidikan seluas-luasnya. Jangan sampai ada anak atau warga yang tidak bisa belajar hanya karena tidak cocok dengan satu pola saja. Setiap orang harus punya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan,” pungkasnya. (*/saf)







