TARAKAN, Headlinews.id – Kenaikan harga cabai rawit, angkutan udara, bawang merah, dan bahan bakar kendaraan mendorong Kota Tarakan mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,45 persen pada Juni 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat tekanan harga tersebut turut mendorong inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) menjadi 1,87 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) mencapai 3,62 persen.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, S.ST., M.Si., mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,23 persen.
Selanjutnya disusul kelompok transportasi sebesar 0,14 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,04 persen.
“Kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi faktor dominan pembentuk inflasi bulan Juni. Kelompok transportasi juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen,” ujar Umar.
Kelompok penyediaan makan minum atau restoran serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing turut memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen dan 0,01 persen.
Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya justru mencatatkan deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen dan 0,01 persen.
“Tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Ada beberapa kelompok yang justru mengalami penurunan indeks sehingga ikut menahan laju inflasi bulan ini,” katanya.
Komoditas yang paling besar mendorong inflasi selama Juni 2026 adalah cabai rawit dengan andil 0,0873 persen.
Selanjutnya diikuti angkutan udara 0,0729 persen, bawang merah 0,0726 persen, bensin 0,0713 persen, kue basah 0,0642 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,0360 persen, minyak goreng 0,0212 persen, seng 0,0207 persen, tomat 0,0205 persen, dan martabak 0,0181 persen.
“Cabai rawit kembali menjadi komoditas yang paling dominan memengaruhi inflasi bulanan. Selain itu, penyesuaian tarif angkutan udara dan kenaikan harga bahan bakar kendaraan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi Juni,” jelas Umar.
Sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Komoditas tersebut di antaranya kangkung, telur ayam ras, emas perhiasan, angkutan laut, daging ayam ras, buku tulis bergaris, terong, ketimun, bayam, dan pembersih lantai.
“Adanya komoditas yang mengalami deflasi menunjukkan pergerakan harga di pasar masih cukup dinamis. Penurunan harga beberapa komoditas tersebut membantu meredam tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi,” ujarnya.
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender Kota Tarakan hingga Juni 2026 telah mencapai 1,87 persen, sedangkan inflasi tahunan tercatat sebesar 3,62 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 110,02.
Menurut Umar, capaian tersebut menjadi perhatian karena inflasi semester pertama sudah mendekati dua persen. Apabila pola inflasi pada semester kedua mengikuti tren tahun lalu, maka inflasi hingga akhir tahun berpotensi melampaui sasaran inflasi nasional.
“Melihat perkembangan inflasi hingga pertengahan tahun, pengendalian harga komoditas pangan strategis harus terus diperkuat. Sinergi TPID bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar inflasi tetap terkendali,” katanya.
Ia berharap berbagai langkah pengendalian yang dilakukan pemerintah dapat menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
“Harapannya, stabilitas harga tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi berjalan baik dan daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan hingga akhir tahun,” pungkas Umar. (saf)










