TARAKAN, Headlinews.id – Dinas Kesehatan Kota Tarakan menggandeng pihak sekolah untuk memperkuat pencegahan penyakit menular di lingkungan pendidikan, menyusul meningkatnya kasus campak dalam beberapa pekan terakhir.
Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Irsal mengatakan pihaknya mengajak guru UKS maupun kepala sekolah untuk menyamakan persepsi tentang langkah penanganan penyakit menular pada siswa.
“Pertemuan ini dengan dengan pihak sekolah, termasuk guru UKS dan kepala sekolah. Karena penyakit menular seperti campak ini sangat mudah menyebar di lingkungan sekolah,” katanya.
Menurutnya, lingkungan sekolah menjadi salah satu lokasi yang rawan terjadi penularan karena tingginya interaksi antarsiswa dalam satu ruangan. Sehingga, diperlukan langkah bersama agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas.
“Kalau ada anak yang sudah menunjukkan gejala sakit, terutama penyakit menular, sebaiknya sementara tidak masuk sekolah dulu. Jangan dipaksakan hadir karena itu bisa menularkan ke teman-temannya di kelas,” ujarnya.
Irsal menjelaskan, campak merupakan penyakit yang menyebar melalui droplet atau percikan air liur sehingga penularannya relatif cepat apabila penderita beraktivitas dekat dengan orang lain.
Anak yang mengalami gejala campak disarankan beristirahat di rumah selama kurang lebih satu minggu sampai kondisinya membaik.
“Penularannya lewat droplet, jadi sangat mudah menyebar. Makanya anak yang sakit kami sarankan istirahat dulu di rumah sekitar satu minggu supaya tidak terjadi penularan lebih luas di sekolah,” katanya.
Selain campak, Dinas Kesehatan juga menemukan sejumlah penyakit menular lain yang banyak menyerang anak-anak usia sekolah.
Pihak sekolah dinilai memiliki peran penting dalam pengawasan kondisi kesehatan siswa maupun penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan pendidikan.
“Kami ingin ada pemahaman bersama antara sekolah dan tenaga kesehatan supaya kalau ada siswa sakit bisa cepat diketahui dan segera ditangani. Jadi tidak sampai menular ke banyak anak lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, koordinasi tersebut diharapkan dapat memperkuat langkah pencegahan penyakit menular di lingkungan sekolah, terutama pada anak usia dini yang menjadi kelompok paling rentan terpapar infeksi.
“Harapannya nanti sekolah juga bisa lebih cepat mengambil langkah kalau ada siswa yang sakit. Jadi penanganannya tidak terlambat dan risiko penularan di lingkungan sekolah bisa ditekan,” pungkasnya. (saf)








