MALINAU, Headlinews.id– Kondisi geografis di pedalaman Kabupaten Malinau memaksa petugas Sensus Ekonomi 2026 menempuh sungai bergiram, melintasi hutan, hingga mendata wilayah tanpa jaringan internet demi memastikan seluruh masyarakat dan pelaku usaha terdata.
Akses paling sulit berada di sejumlah desa di Kecamatan Pujungan dan Mentarang Hulu. Desa Long Pua, Long Ranal, serta beberapa desa pedalaman lainnya hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai berarus deras dan bergiram. Di sejumlah lokasi, petugas juga harus berjalan kaki menembus hutan lantaran belum tersedia moda transportasi.
Kepala BPS Kabupaten Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan, mengatakan tantangan geografis telah dipetakan sejak awal sehingga pelaksanaan sensus tetap dapat menjangkau seluruh wilayah.
“Memang tantangan geografisnya cukup tinggi, khususnya di beberapa desa di Kecamatan Pujungan dan Mentarang Hulu. Ada yang harus mengarungi sungai-sungai dan giram, bahkan ada desa yang harus ditembus melalui hutan. Namun, itu tidak menjadi halangan karena pelaksanaan Sensus Ekonomi harus dipastikan seluruh masyarakat terdata tanpa terkecuali,” ujarnya.
Yanuar menuturkan medan berat juga dihadapi petugas saat memasuki wilayah Sungai Tubu. Untuk menjangkau beberapa desa, termasuk Long Ranal, petugas harus mengarungi sungai dengan tingkat kesulitan tinggi, bahkan melanjutkan perjalanan melalui jalur hutan lantaran tidak tersedia pilihan transportasi lain.
BPS mengantisipasi kondisi itu dengan merekrut petugas lapangan dari masyarakat di setiap kecamatan. Langkah itu dipilih karena mereka telah mengenal karakter wilayah, memahami jalur antardesa, serta terbiasa menghadapi kondisi alam di daerah masing-masing.
“Kami menggunakan masyarakat setempat. Setiap kecamatan memiliki petugas lapangan dan pengawas sendiri. Mereka sudah terbiasa dengan kondisi geografis, sehingga tahu bagaimana berpindah dari satu desa ke desa lain,” katanya.
Tantangan lain juga muncul akibat masih banyaknya kawasan blank spot di pedalaman Malinau. Jaringan internet belum tersedia secara merata sehingga pendataan tidak selalu dapat dilakukan secara online.
Untuk mengatasi kendala itu, BPS menggunakan aplikasi Fasih yang dapat dioperasikan secara offline. Petugas tetap dapat menginput data di lapangan menggunakan telepon genggam Android, lalu menyimpannya di dalam memori perangkat sebelum diunggah ke server setelah menemukan akses internet di ibu kota kecamatan, kantor desa, atau lokasi yang telah didukung layanan Starlink.
“Pendataan tetap bisa dilakukan tanpa internet. Data disimpan dulu di HP petugas. Setelah kembali ke kecamatan atau desa yang memiliki jaringan, datanya tinggal di-upload. Server kami terbuka selama 24 jam,” jelasnya.
Penggunaan telepon genggam Android telah menjadi salah satu persyaratan sejak proses rekrutmen petugas sensus. Seluruh petugas dipastikan memiliki perangkat yang memenuhi spesifikasi untuk menjalankan aplikasi Fasih, baik secara offline maupun online.
Seluruh petugas lapangan juga telah mengikuti pelatihan sebelum diterjunkan. BPS menempatkan satu koordinator wilayah di setiap kecamatan pedalaman untuk memberikan pendampingan, memantau pelaksanaan pendataan, sekaligus membantu petugas apabila menghadapi kendala di lapangan.
Wilayah perkotaan memiliki lebih dari satu koordinator karena jumlah responden yang didata lebih banyak.
BPS juga memberikan perlindungan kepada seluruh petugas melalui kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan. Perlindungan itu mencakup jaminan keselamatan kerja dan kesehatan apabila terjadi risiko saat menjalankan tugas pendataan di lapangan.
“Teman-teman PPL sudah kami bekali pelatihan secara intensif. Setiap kecamatan pedalaman juga memiliki koordinator wilayah yang mendampingi pelaksanaan pendataan. Jadi, kami berupaya memastikan seluruh wilayah tetap terjangkau meski tantangan geografisnya cukup berat,” tutup Yanuar. (saf)










