TANA TIDUNG, Headlinews.id – Satu kilogram kerang dara menjadi awal perjalanan Ratnawati merintis usaha olahan tudai pada 2017. Saat itu, seluruh proses produksi stik tudai dikerjakan sendiri dengan kapasitas terbatas. Hampir sembilan tahun berselang, usahanya berkembang. Ia mampu mengolah hingga lima kilogram bahan baku setiap hari sekaligus melibatkan 10 perempuan dari Desa Tana Merah, Kabupaten Tana Tidung.
Perjalanan usaha tersebut dimulai dari skala kecil. Ratnawati mengolah kerang dara menjadi stik tudai secara mandiri tanpa anggota kelompok. Seiring waktu, ia berupaya mengembangkan usahanya agar kapasitas produksi bertambah dan hasil olahan tersebut dapat dipasarkan lebih luas.
Kesempatan untuk memperbesar usaha datang setelah UMKM Imbaya Bais menerima dukungan matching grant dari program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Bantuan senilai Rp84.515.000 itu diserahkan dalam rangkaian kegiatan Media Gathering Kalimantan Utara pada 2–4 November 2026.
Dukungan tersebut membawa perubahan pada kapasitas produksi. Jika sebelumnya Ratnawati hanya mengolah satu kilogram kerang dara per hari, jumlah bahan baku yang diproses bertambah hingga lima kilogram.
“Alhamdulillah, setelah menerima dana hibah dari M4CR, usaha saya mengalami kemajuan. Awalnya dalam sehari saya hanya mengolah satu kilogram bahan baku, sekarang sudah bisa mencapai lima kilogram,” ungkap Ratnawati.
Peningkatan produksi turut membuka kesempatan bagi Ratnawati untuk mengembangkan usaha secara berkelompok. Ia mulai mengajak perempuan di lingkungan tempat tinggalnya agar ikut terlibat dalam kegiatan produksi. Dari usaha yang awalnya dikelola sendiri, terbentuk kelompok dengan 10 anggota perempuan dari Desa Tana Merah.
“Usaha ini awalnya saya jalankan sendiri sejak 2017. Setelah mendapat dana hibah dari M4CR, saya bisa membentuk kelompok dan merekrut ibu-ibu di Desa Tana Merah. Sekarang ada 10 orang yang bergabung dalam kelompok kami,” tuturnya.
Bertambahnya anggota kelompok membuat kegiatan usaha tidak lagi bertumpu pada Ratnawati seorang diri. Pendampingan dari M4CR juga membantu kelompok dalam memperbaiki proses produksi dan mengembangkan pemasaran stik tudai.
“Selama mendapat pendampingan dari M4CR, alhamdulillah produksi stik tudai saya bisa berjalan lebih baik dan berkembang. Pemasarannya juga semakin berkembang,” katanya.
Bagi Ratnawati, perkembangan usaha ini membuka peluang untuk memperluas jangkauan pemasaran sekaligus mengajak lebih banyak perempuan terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif. Ia berharap stik tudai hasil olahan kelompoknya dapat dikenal di luar pasar lokal, bahkan menjangkau konsumen internasional.
Keinginan memperluas pasar itu berjalan beriringan dengan rencana menambah anggota kelompok. Ratnawati berharap semakin banyak perempuan di Desa Tana Merah memperoleh kesempatan untuk bergabung dan ikut mengembangkan usaha olahan kerang dara.
“Saya sangat berharap produk kami tidak hanya dipasarkan di pasar lokal, tetapi juga bisa menembus pasar internasional. Ke depan, saya juga berharap bisa merekrut lebih banyak ibu-ibu di Tana Merah untuk bergabung dalam kelompok Imbaya Bais,” tutupnya. (saf)










