TANJUNG REDEB, Headlinews.id – Percepatan penurunan stunting tidak hanya bergantung pada pemenuhan gizi, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang bersih dan sehat. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai menjadi salah satu upaya yang perlu diperkuat untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said, saat membuka Orientasi Inovasi Gerakan Masyarakat Mandiri dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat sebagai Strategi Mendukung Percepatan Penurunan Stunting yang digelar Dinas Kesehatan Berau di Ballroom Hotel Mercure, Selasa (7/7/2026).
Menurut Muhammad Said, penanganan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Selain intervensi di bidang kesehatan, perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga menjadi faktor penting.
“Stunting tidak bisa diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan. Perlu dukungan semua pihak, termasuk masyarakat melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.
Ia menilai pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga dapat menjadi langkah sederhana, namun memberikan dampak besar terhadap kualitas lingkungan.
“Kalau lingkungan bersih dan sanitasi terjaga, tentu kualitas kesehatan masyarakat juga akan semakin baik. Ini menjadi bagian dari upaya menekan angka stunting,” ujarnya.
Muhammad Said berharap orientasi tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat diimplementasikan di lingkungan masing-masing sehingga kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah terus meningkat.
“Ilmu yang diperoleh hari ini jangan berhenti di ruangan ini. Harapannya dapat diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, Dinas Kesehatan Berau menghadirkan akademisi Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Anwar Mallongi, sebagai narasumber. Ia menjelaskan bahwa persoalan stunting juga berkaitan erat dengan kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan.
Menurut Anwar, pengelolaan sampah yang baik mampu mengurangi potensi pencemaran lingkungan sekaligus menekan risiko penyakit yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.
“Anak yang tumbuh di lingkungan yang sehat memiliki peluang lebih baik untuk berkembang secara optimal. Karena itu, pengelolaan sampah menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian,” jelasnya.
Dalam orientasi tersebut, peserta juga memperoleh materi mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, residu, serta limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Selain itu, dipaparkan penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), pembuatan kompos metode Takakura, pemanfaatan biopori, komposter tertutup, pengembangan bank sampah, hingga konsep zero waste.
Anwar mengajak masyarakat memulai pengelolaan sampah dari lingkungan keluarga sebagai langkah membangun budaya hidup bersih.
“Perubahan besar selalu dimulai dari rumah. Kalau setiap keluarga mampu memilah dan mengelola sampah dengan baik, manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga bagi kesehatan generasi yang akan datang,” tutupnya. (*)









