TARAKAN, Headlinews.id – Pertemuan yang mempertemukan sejumlah pihak untuk membahas tindak lanjut tuntutan Aliansi Mahasiswa Perbatasan terkait layanan penerbangan perintis di Kalimantan Utara mendapat apresiasi dari tokoh adat Dayak Lundayeh.
Forum yang digelar di Aula Paten Polres Tarakan, Senin (29/6/2026), menghadirkan unsur kepolisian, pemerintah daerah, pengelola bandara, maskapai penerbangan, dan tokoh masyarakat sebagai tindak lanjut atas aksi mahasiswa di Bandara Juwata Tarakan beberapa waktu lalu.
Tokoh adat Dayak Lundayeh Tarakan sekaligus bagian dari struktur Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Kalimantan Utara, Feri E. Benjamin Siran, menilai forum tersebut menjadi ruang komunikasi yang penting karena seluruh pihak dapat menyampaikan posisi dan langkah sesuai kewenangan masing-masing.
Menurut Feri, aspirasi yang disampaikan mahasiswa menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat terhadap akses transportasi udara, khususnya di wilayah perbatasan dan pedalaman.
Meski demikian, ia menilai penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan secara sekaligus.
“Tadi saya sempat menyampaikan di forum, menurut saya ada beberapa hal yang positif yang mungkin bertahap. Kesabaran itu harus dimiliki karena keputusan dan kebijakan itu selalu bertahap,” ujarnya.
Ia mengatakan pertemuan tersebut menunjukkan adanya respons awal terhadap persoalan yang sebelumnya disampaikan mahasiswa dan membuka ruang pembahasan lebih lanjut antarpihak.
Feri menilai perkembangan yang mulai terlihat perlu diapresiasi sekaligus terus dikawal agar berdampak terhadap pelayanan penerbangan.
“Dan tadi kita sama-sama menyaksikan ada progres yang sudah berlaku mulai hari ini tanggal 29. Atas perjuangan mahasiswa dan atas kepedulian dari pihak penerbangan, khususnya Susi, kami sebagai salah satu tokoh masyarakat di Kota Tarakan ini menyampaikan banyak-banyak terima kasih,” katanya.
Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang hadir dan membuka ruang dialog sehingga pembahasan dapat dilakukan secara langsung.
“Adik-adik mahasiswa itu juga harus mengerti misi-misi dari penerbangan dan sebagainya,” ucapnya.
Menurut Feri, penyampaian aspirasi dan tindak lanjut yang dilakukan melalui forum bersama perlu tetap berjalan seiring agar solusi yang dihasilkan dapat diterima seluruh pihak.
Ia menambahkan persoalan transportasi udara di Kalimantan Utara membutuhkan keterlibatan banyak pihak sehingga komunikasi dan koordinasi perlu terus dijaga.
“Supaya pelayanan penerbangan ini juga bisa baik ke depan untuk masyarakat kita di Provinsi Kaltara,” tutupnya.
Sebelumnya, Aliansi Mahasiswa Perbatasan Melawan menggelar aksi di depan gerbang Bandara Juwata Tarakan pada 23 Juni 2026 dengan membawa tujuh tuntutan terkait layanan penerbangan perintis, distribusi tiket, dan transparansi tarif subsidi. (saf)










