TARAKAN, Headlinews.id – Distribusi komoditas perikanan asal Kalimantan Utara ke pasar internasional mulai diarahkan melalui jalur ekspor langsung tanpa transit luar daerah.
Langkah itu kembali terealisasi setelah 935 ekor kepiting hidup milik PT Sabindo Raya Gemilang dikirim langsung dari Tarakan menuju Hong Kong pada Kamis (21/5/2026) dengan nilai ekspor mencapai Rp49,7 juta.
Pengiriman tersebut menjadi ekspor langsung kedua dari Kalimantan Utara dalam bulan Mei 2026. Sebelumnya, pada 8 Mei lalu, komoditas ikan bawal segar dan ikan malong juga dikirim langsung dari Tarakan ke Hong Kong.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara, Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan jalur distribusi langsung mulai dibuka untuk memangkas rantai pengiriman yang selama ini masih bergantung pada daerah transit luar negeri.
“Selama ini sebagian besar pengiriman kepiting dari Kaltara masih lewat Tawau terlebih dahulu. Dengan ekspor langsung ini, waktu distribusi bisa lebih singkat dan kualitas komoditas lebih terjaga,” ujarnya.
Menurutnya, pola distribusi tersebut penting terutama untuk komoditas hidup yang membutuhkan waktu pengiriman cepat agar tetap memenuhi standar pasar internasional.
“Produk seperti kepiting hidup sangat bergantung pada kecepatan distribusi. Kalau terlalu lama di perjalanan, tentu berpengaruh pada kualitas saat tiba di negara tujuan,” katanya.
Sebelum diberangkatkan, seluruh komoditas menjalani tindakan karantina berupa pemeriksaan fisik dan verifikasi dokumen kesehatan ikan oleh petugas BKHIT Kalimantan Utara.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan komoditas yang diekspor memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan pangan sesuai ketentuan negara tujuan.
“Setiap komoditas yang keluar harus dipastikan sehat dan sesuai standar negara tujuan. Itu yang menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pasar internasional,” ujar Ichi.
Ia menambahkan, kelancaran ekspor langsung juga bergantung pada kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kualitas komoditas serta memenuhi ketentuan karantina yang berlaku.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan karantina cepat, tepat dan profesional supaya pengiriman komoditas ekspor tidak terkendala. Dengan proses yang lebih baik, pelaku usaha juga semakin siap memperluas pasar ekspornya,” katanya.
Ichi menyebut potensi ekspor kepiting asal Kalimantan Utara sebenarnya cukup besar. Berdasarkan data BKHIT Kalimantan Utara, lalu lintas ekspor kepiting bakau melalui Bandara Juwata Tarakan sepanjang 2025 mencapai lebih dari 8,1 juta ekor dengan nilai sekitar Rp160,2 miliar. Negara tujuan pengiriman didominasi Singapura dan Malaysia, selain China.
Menurutnya, sebagian pengiriman kepiting dari Kalimantan Utara selama ini masih melalui Tawau, Malaysia, sebelum diteruskan ke pasar internasional.
“Selama ini yang dikenal sebagai crab city itu Tawau, padahal kepitingnya sebagian besar dari kita. Mudah-mudahan ke depan Tarakan juga bisa mengambil posisi itu,” ujarnya.
Ia menilai pembukaan jalur ekspor langsung dari Tarakan akan membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi daerah, terutama jika pengiriman komoditas tidak lagi bergantung pada jalur transit luar negeri.
“Bayangkan kalau semakin banyak komoditas diekspor langsung dari Tarakan. Perputaran ekonominya tentu akan lebih terasa untuk daerah,” pungkasnya. (saf)










