TARAKAN, Headlinews.id – Pengalaman putus sekolah tidak menghalangi peserta didik Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C di UPT SPNF SKB Kota Tarakan untuk kembali menempuh pendidikan. Dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), peserta didik mendapat pembekalan character building untuk membangun semangat belajar dan kesiapan mengikuti proses pembelajaran.
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan kegiatan character building menjadi salah satu materi yang diberikan pada awal pelaksanaan MPLS. Materi disampaikan melalui kerja sama dengan pihak eksternal dengan pendekatan yang berbeda dari pembelajaran di kelas.
Ia menjelaskan, kegiatan dibawakan pemateri dari Universitas Borneo Tarakan dengan konsep permainan yang mengajak peserta didik lebih aktif berinteraksi sekaligus membangun motivasi untuk kembali bersekolah.
“Character building itu kami minta bantuan dari Pak Joni dari Universitas Borneo. Beliau mengajak anak-anak bagaimana tetap bersemangat untuk belajar, meskipun dengan kondisi mereka sudah pernah putus sekolah,” ujar Patmaria, Selasa (21/7/2026).
Menurut Patmaria, pendekatan melalui permainan dipilih agar pesan yang diberikan lebih mudah diterima peserta didik. Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga membantu peserta didik membangun rasa percaya diri dan kesiapan mengikuti proses belajar.
“Melalui berbagai kegiatan permainan kemarin, bentuknya permainan. Jadi mereka diajak bagaimana tetap bersemangat untuk belajar dengan kondisi mereka yang pernah mengalami putus sekolah,” katanya.
Ia menyebut, peserta didik pendidikan kesetaraan memiliki latar belakang yang beragam sehingga membutuhkan pendekatan yang disesuaikan. MPLS menjadi tahap awal untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan belajar di SKB.
Antusias peserta didik, kata Patmaria, terlihat sejak pelaksanaan MPLS yang berlangsung pada siang hingga sore hari. Kegiatan tersebut dimulai pukul 13.00 hingga 16.30, namun peserta didik tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik.
Bahkan, sebagian peserta didik datang lebih awal sebelum kegiatan dimulai.
“Saya juga bingung, anak-anak di sini kadang laporan pertama kali datang itu mereka jarang masuk, ada yang suka di-bully, tidak bisa bergaul. Tetapi kalau di sini hal itu tidak terlihat. Mereka aktif masuk, bahkan libur malah minta masuk,” tuturnya.
Patmaria mengatakan, perubahan sikap tersebut terlihat dari keinginan peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar. Menurutnya, sebagian peserta didik merasa nyaman dengan suasana belajar yang diterapkan di SKB.
“Ada yang jam 1 mulai, tetapi jam 11 sudah ada di sini. Jadi untuk mereka, sekolah itu sebenarnya mereka senang,” ujarnya.
Ia menilai, perbedaan pendekatan pembelajaran menjadi salah satu faktor yang membuat peserta didik lebih nyaman mengikuti pendidikan di SKB. Meski menggunakan kurikulum dan buku pembelajaran yang sama dengan pendidikan formal, proses belajar di SKB menyesuaikan kondisi peserta didik.
“Memang pelajaran kita sedikit berbeda, tetapi sebenarnya kurikulum yang kita pakai sama, buku yang kita pakai sama. Mungkin suasana dan pendekatannya yang membuat mereka lebih nyaman,” kata Patmaria.
Rangkaian MPLS Pendidikan Kesetaraan di SKB Tarakan berlangsung selama empat hari. Selain character building, peserta didik juga mendapatkan materi pengenalan SKB, sistem pembelajaran, bahaya narkoba, pencegahan HIV/AIDS, hingga pertemuan bersama orang tua. (*/saf)









