TARAKAN, Headlinews.id – Pemantauan harga dan stok barang kebutuhan masyarakat terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan di Kota Tarakan yang masih bergantung pada distribusi dari luar daerah.
Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, mengatakan kondisi inflasi Tarakan pada April 2026 masih berada pada posisi deflasi sebesar 0,06 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari pengawasan rutin terhadap harga dan ketersediaan barang kebutuhan masyarakat. Dalam rapat pengendalian inflasi daerah, pembahasan utama tidak hanya terkait harga barang, tetapi juga kondisi stok dan distribusi pasokan di lapangan.
“Hah yang dibahas pertama terkait level harga. Kami mendapat insight dari beberapa stakeholder selain BPS sendiri. BPS juga melakukan survei ada yang seminggu dua kali, ada yang mingguan, ada yang bulanan,” katanya.
Ia menjelaskan, BPS memantau sekitar 383 komoditas yang tidak hanya mencakup bahan pangan, tetapi juga kebutuhan lain seperti sepeda motor, telepon genggam, tarif rumah sakit hingga obat-obatan.
“Perlu dicatat, di BPS kami memantau sekitar 383 komoditas. Jadi tidak hanya makanan, tapi juga sepeda motor, HP, tarif rumah sakit, obat-obatan, dan lainnya,” jelasnya.
Selain perkembangan harga, rapat pengendalian inflasi juga memantau kondisi stok barang di daerah. Data tersebut dihimpun dari Dinas Perdagangan dan Dinas Ketahanan Pangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia.
“Kalau barang tersedia dan harga stabil, itu memang selalu dibahas dalam setiap rapat pengendalian inflasi,” ujarnya.
Umar menyebut terdapat sekitar 20 komoditas utama yang menjadi perhatian dalam pemantauan rutin, mulai dari beras, minyak goreng, telur, daging ayam hingga sayur-mayur seperti sawi, kangkung dan bayam.
Ia mengungkapkan, sebagian besar kebutuhan Tarakan masih dipasok dari luar daerah. Meski demikian, beberapa komoditas hortikultura mulai mampu dipenuhi dari produksi lokal seperti sawi, kangkung dan cabai rawit.
“Cuma tantangannya adalah mencocokkan waktu produksi petani dengan kebutuhan pasar. Kadang ketika produksi melimpah, permintaan rendah sehingga harga turun. Sebaliknya, ketika permintaan tinggi, produksinya justru kurang,” katanya.
Selain pangan, faktor distribusi dan situasi global juga menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas pasokan di daerah. Umar menilai Indonesia masih cukup beruntung karena sebagian besar kebutuhan pangan nasional masih dapat dipenuhi dari dalam negeri.
“Kalau terkait geopolitik, Indonesia termasuk negara yang beruntung karena sebagian besar kebutuhan pangan masih bisa dipenuhi sendiri,” tutupnya. (saf)









