TARAKAN, Headlinews.id – Genangan air yang menutupi lubang dan membentuk kubangan di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karang Anyar Pantai, Tarakan, mengganggu aktivitas warga dan pengendara. Kerusakan badan jalan membuat pengendara sepeda motor harus lebih berhati-hati saat melintas. Sementara itu, bau menyengat dari saluran di sekitar lokasi turut mengganggu aktivitas perdagangan.
Kris, salah seorang pengendara sepeda motor yang melintas di ruas tersebut, menghadapi kondisi jalan yang dipenuhi genangan dan lubang. Air yang menutupi permukaan jalan membuat kedalaman kubangan sulit diperkirakan, sehingga pengendara harus mengurangi kecepatan saat melintas.
“Kalau lewat sini memang harus pelan-pelan. Kita tidak tahu lubang di bawah air itu dalam atau tidak. Kalau tidak kelihatan, tiba-tiba roda masuk, bisa saja motor oleng. Apalagi kalau sedang ramai kendaraan, kita harus lihat kanan kiri juga,” ujar Kris, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, menghindari lubang juga tidak selalu mudah ketika ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Pengendara harus memperhitungkan posisi kendaraan sekaligus mencari bagian jalan yang relatif aman untuk dilewati.
“Kadang kita mau menghindar ke samping, ternyata ada kendaraan lain. Mau terus juga takut masuk lubang. Jadi memang harus hati-hati sekali lewat sini. Harapannya jalan ini segera diperbaiki supaya tidak terus begini kondisinya,” katanya.
Kerusakan jalan tersebut menjadi salah satu persoalan yang dirasakan pengguna jalan. Genangan membuat lubang sulit terlihat, sedangkan permukaan jalan yang tidak rata memaksa pengendara menyesuaikan kecepatan dan memilih jalur dengan cermat.
Keluhan serupa disampaikan Ulis, pedagang yang telah berjualan di sekitar Jalan Gajahmada selama dua tahun. Ia mengatakan bau menyengat telah tercium selama beberapa pekan terakhir, bahkan ketika tidak turun hujan. Aroma tidak sedap itu semakin kuat pada waktu tertentu, terutama menjelang sore.
“Ini sudah sekitar sebulanan bau nya. Kadang siang sudah terasa, tetapi kalau sore, sekitar jam tiga, biasanya lebih kuat lagi. Bau seperti air sabun. Kami yang berjualan di sini tentu mencium terus,” ujar Ulis.
Ia menduga bau tersebut berkaitan dengan aliran air dari drainase dan kemungkinan berasal dari aktivitas usaha laundry di sekitar lokasi. Namun, sumber bau belum dipastikan melalui pemeriksaan teknis.
Selain bau, Ulis juga mengkhawatirkan kondisi jalan yang rusak. Menurutnya, lubang yang tertutup genangan sulit dikenali pengendara. Warga bahkan pernah berupaya memberi tanda pada bagian jalan yang rusak agar tidak ada pengguna jalan yang terjatuh.
“Kalau ada orang lewat terus jatuh, kasihan. Kadang mereka tidak tahu ada lubang karena tertutup air. Kami juga takut kalau sampai ada yang mengalami kecelakaan. Makanya pernah diberi tanda, supaya orang yang lewat bisa lebih hati-hati,” tuturnya.
Ulis mengaku kondisi tersebut turut memengaruhi kegiatan berdagang. Jumlah pembeli yang datang ke tempatnya berjualan disebut berkurang hingga sekitar separuh dibandingkan sebelumnya.
“Dulu bisa dapat sekitar Rp550 ribu sehari, sekarang paling sekitar Rp250 ribu. Pembeli memang berkurang. Mungkin orang juga kurang nyaman singgah kalau mencium bau seperti ini. Kami berharap cepat diperbaiki supaya orang yang lewat nyaman dan pembeli mau singgah lagi,” katanya.
Ulis berharap perbaikan tidak hanya menyasar badan jalan, tetapi juga saluran drainase yang berada di sekitar lokasi. Menurutnya, kondisi jalan dan aliran air perlu ditangani agar lubang tidak terus tergenang dan bau tidak kembali mengganggu warga.
“Jangan sampai ada korban. Kasihan, banyak korban,” kata Ulis. (saf)










