TARAKAN, Headlinews.id – Lubang bara batu bara berdiameter sekitar 2,5 meter ditemukan di lereng tanah yang berbatasan dekat dengan rumah warga di Tarakan. Panas dari titik kebakaran tersebut dilaporkan telah mencapai dinding rumah di sekitarnya, sehingga menambah risiko terhadap bangunan.
Kabid Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Kota Tarakan, Eko Supriatnoko mengatakan, informasi mengenai kebakaran tersebut diterima dari laporan masyarakat sejak Jumat. Batu bara diperkirakan telah terbakar lebih dari tiga pekan sebelum penanganan dilakukan bersama instansi terkait.
“Informasi yang kita terima sejak Jumat (9/10/2026) dari laporan masyarakat melalui grup-grup komunikasi, ada batu bara yang terbakar dan dekat dengan permukiman. Senin (12/10/2026), kami bersama-sama ke lokasi untuk melihat seberapa besar tingkat kebakarannya, kondisinya seperti apa, dan juga dibantu dengan warga,” ujar Eko.
Lokasi kebakaran berada di lereng dengan akses sempit dan terjal serta berbatasan dengan jurang. Kondisi tersebut menyulitkan petugas menjangkau titik bara, terlebih sumber panas berada di dalam lapisan batu bara dan berdekatan dengan bangunan warga.
Eko mengungkapkan, batu bara yang terbakar telah membentuk lubang terbuka dengan bagian dalam terlihat memerah. Kondisi ini menunjukkan adanya bara yang masih aktif di bawah permukaan tanah. Petugas juga menemukan dinding rumah yang berada dekat dengan lokasi telah terpapar panas.
“Awalnya sebelum kita tangani, lubang yang menganga itu diameternya sekitar 2,5 meter. Posisinya di tebing, di tanah yang miring, dan jaraknya sangat dekat dengan dinding rumah. Waktu dinding rumah itu kita pegang, sudah terasa panas. Di situ juga ada kusen, kalau terlambat ditangani bisa saja kusennya ikut terbakar,” jelasnya.
Setelah peninjauan lapangan, koordinasi lintas instansi dilakukan pada Selasa. Pembahasan melibatkan unsur penanggulangan bencana, Damkar, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, serta pemerintah wilayah setempat. Penanganan disusun dengan mempertimbangkan kondisi batu bara yang telah lama terbakar dan pengalaman menghadapi kejadian serupa.
Pengupasan langsung terhadap material tidak menjadi pilihan awal. Petugas mempertimbangkan kemungkinan bara semakin aktif apabila lapisan batu bara yang terbakar langsung dibuka. Metode pendinginan dari bagian dalam kemudian digunakan sebelum penyemprotan dilakukan secara lebih intensif.
“Waktu rapat juga disampaikan pengalaman penanganan batu bara di Amal. Ketika dikupas, apinya malah semakin besar. Sementara batu bara di lokasi ini diperkirakan sudah terbakar lebih dari tiga minggu dan ada lubang yang menganga dengan bara merah di dalamnya. Jadi, kami harus memperhitungkan teknik penanganannya,” katanya.
Sekitar 20 personel Damkar dikerahkan dari Mako, Sektor Barat, dan Sektor Utara. Mereka merupakan personel Regu B yang sedang tidak menjalani jadwal piket. Petugas bekerja bersama instansi terkait dengan menggunakan perlengkapan yang dapat dibawa secara manual menuju titik kebakaran.
Keterbatasan akses menjadi salah satu kendala di lapangan. Jalur menuju lokasi sempit dan terjal, sedangkan salah satu sisinya berbatasan dengan jurang. Petugas harus membentangkan selang hingga lima gulung atau sekitar 120 meter untuk menjangkau sumber bara.
“Jalan masuknya memang sempit dan terjal, satu sisinya jurang. Selang yang kami gunakan sampai lima gulung, sekitar 120 meter. Alat berat juga tidak bisa masuk ke lokasi, sehingga pekerjaan harus dilakukan secara manual oleh anggota,” terang Eko.
Petugas kemudian membuat sejumlah lubang biopori dengan kedalaman bervariasi, mulai sekitar setengah meter hingga 1,5 meter. Lubang dibuat sampai mencapai lapisan batu bara untuk membuka jalur masuk air menuju sumber panas yang berada di bawah permukaan.
Di bagian bawah lereng, petugas memasang tanggul dari karung berisi pasir. Tanggul tersebut digunakan untuk menahan material batu bara yang terlepas saat penyemprotan sekaligus menjaga air tetap menggenang di sekitar titik kebakaran.
“Lubang biopori itu kami buat sampai bertemu batu bara, sampai tidak bisa lagi digali. Ada yang kedalamannya setengah meter, satu meter, sampai satu setengah meter. Di bagian bawah yang menganga kami buat tanggul menggunakan karung pasir, supaya air yang disemprotkan bisa tertahan dan masuk lagi ke bagian yang terbakar,” paparnya.
Penyemprotan air dilakukan secara bertahap dengan menggunakan campuran deterjen pencuci piring sebagai bahan pembasah. Campuran tersebut digunakan untuk membantu air meresap ke pori-pori batu bara.
Petugas tidak langsung menggunakan semprotan bertekanan tinggi karena mempertimbangkan kemungkinan semburan uap saat air mengenai material yang masih sangat panas.
Menurut Eko, suhu di dalam lapisan batu bara masih cukup tinggi ketika proses pendinginan berlangsung. Air yang tertampung pada tanggul bahkan terlihat mendidih setelah bersentuhan dengan material yang terbakar.
“Air yang kita tampung lewat tanggul-tanggul tadi juga mendidih. Jadi, apinya memang berada cukup dalam. Kami tidak berani langsung menggunakan semprotan bertekanan tinggi, karena khawatir ada material yang pecah di dalam dan uapnya keluar banyak. Makanya kami semprot perlahan sampai air bisa meresap masuk ke sumber kebakaran,” ungkapnya.
Setelah air mulai mencapai bagian dalam, petugas meningkatkan tekanan penyemprotan untuk merontokkan batu bara yang sudah terbakar. Material yang terlepas ditahan tanggul, sedangkan air tetap digenangkan agar proses pendinginan berlangsung lebih merata.
Proses penanganan berlangsung sekitar tiga jam. Sebagian besar waktu digunakan untuk membuat lubang biopori dan menyusun tanggul pasir. Petugas juga memanfaatkan pasir yang tersedia di halaman rumah warga setelah mendapat izin dari pemiliknya.
Pendinginan tidak langsung dihentikan ketika asap mulai menghilang. Petugas menunggu sekitar 15 menit untuk melihat kemungkinan munculnya asap kembali, kemudian memeriksa suhu material. Jika batu bara masih panas, penyemprotan kembali dilakukan sampai suhu menurun.
“Ternyata batunya masih panas, jadi kami lakukan lagi pendinginan. Sampai benar-benar dingin dan bisa kami pegang, baru kami pastikan penanganannya cukup,” katanya.
Pada tahap akhir, petugas menyemprotkan air ke tanah di bagian lereng hingga melunak dan turun menutupi permukaan batu bara. Lapisan tanah basah tersebut digunakan untuk mengurangi masuknya oksigen ke bagian yang sebelumnya terbakar.
Meski penanganan utama telah selesai, pemantauan masih dilakukan. Petugas dan warga di sekitar lokasi diminta memperhatikan kemungkinan munculnya asap kembali dari titik yang sebelumnya terbakar agar tindakan lanjutan dapat segera dilakukan.
“Sekarang penanganannya sudah selesai, hari ini termonitor dilokasi, panas batubaranya sdh hilang, tapi kami masih memonitor. Ada personel dan warga yang berjaga. Kalau muncul asap lagi, harus segera ditangani, jangan sampai dibiarkan lama-lama. Kalau nanti masih menyala lagi, bisa dilakukan penggalian pada bagian lerengnya,” tandasnya. (saf)










