TARAKAN, Headlinews.id – Pemahaman keselamatan transportasi perlu dibangun sejak usia sekolah agar kebiasaan tertib dan mengenali risiko terbawa ketika masyarakat menggunakan moda transportasi. Pesan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Sekolah Kedinasan dan Kampanye Keselamatan Transportasi di SMA Negeri 1 Tarakan, Selasa (15/9/2026).
Kepala KSOP Kelas II Tarakan, Stanislaus Wembly Wetik, mengatakan pelajar perlu mengenal keselamatan transportasi sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Pengetahuan tersebut tidak hanya diperlukan ketika seseorang bekerja di sektor transportasi, tetapi juga saat menggunakan fasilitas dan layanan transportasi.
“Keselamatan itu harus dikenalkan sejak sekolah. Anak-anak perlu tahu bagaimana menggunakan transportasi dengan benar, mengikuti aturan, mendengarkan arahan petugas dan memahami risiko yang ada. Kebiasaan seperti itu kalau dibangun sejak muda akan terbawa sampai mereka dewasa,” ujar Stanislaus.
Menurutnya, transportasi memiliki banyak aspek yang membutuhkan sumber daya manusia dengan kemampuan dan kedisiplinan. Pelajar yang tertarik bekerja di sektor tersebut dapat mulai mengenal berbagai bidang yang tersedia, termasuk pendidikan melalui sekolah kedinasan.
“Dunia transportasi itu luas. Tidak hanya soal kapal atau pelabuhan, tetapi ada navigasi, keselamatan, pengelolaan transportasi dan banyak bidang lainnya. Jadi siswa yang tertarik bisa mulai mencari informasi tentang pendidikan dan kompetensi yang dibutuhkan,” katanya.
Kampanye keselamatan dalam kegiatan tersebut juga diarahkan pada kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan pelajar ketika menggunakan transportasi. Mematuhi aturan, menggunakan perlengkapan keselamatan serta mengikuti instruksi petugas merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko selama perjalanan.
Stanislaus mengatakan pemahaman terhadap keselamatan perlu disertai kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi tertentu. Dalam transportasi laut, misalnya, pengguna jasa perlu memahami instruksi keselamatan sebelum perjalanan berlangsung.
“Kadang orang menganggap aturan keselamatan itu hal kecil. Padahal ketika terjadi keadaan darurat, orang harus sudah tahu apa yang dilakukan. Mengikuti arahan, mengetahui jalur evakuasi dan menggunakan alat keselamatan bisa sangat menentukan,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pelajar agar tidak mengabaikan risiko hanya karena perjalanan dilakukan dalam kondisi normal. Keselamatan tetap perlu diperhatikan sejak sebelum perjalanan, bukan setelah terjadi keadaan darurat.
“Kita tidak tahu kapan risiko itu muncul. Perjalanan yang selama ini aman bisa saja menghadapi kondisi berbeda. Jadi persiapan dan kepatuhan terhadap aturan harus dilakukan sejak awal,” tegas Stanislaus.
Kegiatan tersebut digelar KSOP Kelas II Tarakan bersama Distrik Navigasi Tipe A Kelas III Tarakan dan panitia Harhubnas 2026. Selain kampanye keselamatan, peserta mendapatkan informasi mengenai sekolah kedinasan sebagai salah satu jalur pendidikan untuk mengenal profesi dan kebutuhan sumber daya manusia di sektor transportasi.
Stanislaus mengatakan pelajar memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan keselamatan di lingkungan masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah dapat diterapkan ketika bepergian sekaligus disampaikan kembali kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Mulai dari hal sederhana saja. Tertib saat menggunakan transportasi, ikuti aturan dan jangan mengabaikan petunjuk keselamatan. Kalau kebiasaan itu sudah terbentuk sejak sekolah, kita punya generasi yang lebih sadar terhadap keselamatan,” pungkasnya. (saf/*)










