TARAKAN, Headlinews.id – Kesiapan awak kapal menghadapi kebakaran dan orang jatuh ke laut diuji dalam simulasi keselamatan pelayaran di perairan Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Selasa (15/9). Latihan tersebut memperagakan tahapan penanganan keadaan darurat sejak kejadian diketahui hingga upaya penyelamatan korban.
Kepala KSOP Tarakan Stanislaus Wembly Wetik melalui Kepala Pos Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Abdul Rahman, mengatakan latihan diperlukan agar awak kapal terbiasa mengambil tindakan ketika menghadapi situasi darurat. Dua skenario yang dipraktikkan, yakni fire drill dan man overboard, disesuaikan dengan kondisi yang dapat terjadi saat kapal beroperasi.
“Dua skenario ini kita pilih karena awak kapal harus tahu apa yang dilakukan ketika ada kebakaran maupun ketika ada orang jatuh ke laut. Jadi mereka tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mencoba langsung tahapan penanganannya,” ujar Rahman.
Skenario pertama menggambarkan kebakaran terjadi ketika kapal sedang berlayar dan sebagian awak berada di ruang istirahat. Informasi kejadian kemudian disampaikan kepada nakhoda sebelum diteruskan kepada pihak terkait.
Awak kapal selanjutnya mempraktikkan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan komunikasi melalui radio. Ketika skenario berkembang dengan adanya awak yang jatuh ke laut, prosedur penanganan man overboard langsung dijalankan untuk mencari dan mengevakuasi korban.
Rahman mengatakan dari latihan tersebut terlihat awak kapal sudah memahami pembagian tugas ketika menghadapi keadaan darurat. Namun, simulasi juga menemukan kebutuhan yang perlu diperbaiki untuk mendukung proses evakuasi dari kapal.
“Secara umum mereka sudah tahu tugas masing-masing. Begitu ada kejadian, sudah tahu siapa yang melapor, siapa yang menangani dan siapa yang melakukan penyelamatan. Tapi kita juga menemukan kebutuhan sarana, misalnya tangga darurat untuk membantu evakuasi dari kapal,” katanya.
Menurut Rahman, sarana evakuasi tersebut penting terutama ketika proses penyelamatan dilakukan dari posisi kapal menuju permukaan air. Tangga yang sesuai dapat membantu awak maupun korban ketika harus naik atau diturunkan dari kapal dalam kondisi darurat.
Simulasi juga diikuti pemeriksaan kesehatan awak kapal oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan sebelum latihan berlangsung. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi fisik awak siap mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Rahman mengatakan latihan keselamatan tetap diperlukan meskipun sebagian awak kapal telah memiliki sertifikasi dan kompetensi pelayaran, seperti Basic Safety Training (BST), Surat Keterangan Kecakapan (SKK), maupun Mualim Pelayaran Rakyat (MPR).
“Sertifikat dan kompetensi memang diperlukan, tetapi saat kejadian sebenarnya orang harus terbiasa dengan tindakan yang harus dilakukan. Kecelakaan tidak bisa kita tentukan kapan terjadi, sehingga latihan seperti ini penting supaya respons awak kapal lebih cepat dan tepat,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut digelar tim gabungan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tarakan bersama pengelola Pelabuhan Tengkayu I, Pemprov Kaltara, Jasa Raharja Tarakan, Dinas Perhubungan Kaltara, Satpol PP Kaltara dan awak kapal. Simulasi juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional 2026.
Rahman berharap latihan yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan simulasi. Awak kapal diharapkan mampu menerapkan prosedur yang telah dipraktikkan ketika menghadapi keadaan darurat dalam pelayaran.
Latihan keselamatan diperlukan karena kondisi darurat di kapal tidak dapat diprediksi. Kecepatan awak mengambil tindakan pada saat kejadian berlangsung ikut menentukan proses penanganan dan penyelamatan.
“Kondisi darurat bisa terjadi kapan saja. Saat ada kebakaran, awak harus bisa segera menggunakan APAR dan berkomunikasi dengan pihak terkait. Begitu juga ketika ada orang jatuh ke laut, prosedur penyelamatan harus langsung dijalankan,” pungkasnya. (saf)










