TARAKAN, Headlinews.id – Luasan lahan yang terbakar di Tarakan sepanjang Agustus 2026 terus bertambah. BPBD Tarakan memperkirakan sekitar 16 hektare lahan telah terdampak kebakaran, dengan sedikitnya 10 titik ditangani petugas di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Tarakan, Yonsep mengatakan, kebakaran pada Selasa (11/8/2026) menjadi salah satu kejadian dengan luasan cukup besar. Dari beberapa lokasi yang ditangani, total lahan terbakar diperkirakan sekitar 11 hektare.
“Untuk kejadian yang kita tangani kemarin, perkiraan luasnya sekitar 11 hektare. Kalau dihitung dengan kejadian-kejadian sebelumnya sepanjang Agustus, total lahan yang terbakar sementara ini diperkirakan sudah sekitar 16 hektare,” kata Yonsep, Rabu (12/8/2026).
Kebakaran terbaru terjadi di antaranya di RT 14 Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur dan RT 18 Kelurahan Juata Permai, Kecamatan Tarakan Utara. Empat titik tambahan tersebut terdiri dari dua lokasi di Tarakan Utara dan dua lainnya di kawasan Pantai Amal.
Sebelumnya, BPBD telah menangani enam titik kebakaran lahan yang tersebar di kawasan Juata Permai, Juata Laut dan wilayah Tarakan Timur.
“Kalau sebelumnya ada enam titik yang kita tangani, dua di sekitar Juata Permai dan Juata Laut, kemudian empat lainnya berada di wilayah Timur. Setelah itu muncul lagi empat titik, dua di Tarakan Utara dan dua di Pantai Amal. Jadi total yang sudah ditangani ada sekitar 10 titik,” ujarnya.
Kebakaran sejauh ini masih terjadi di lahan dan kebun milik masyarakat. Namun, beberapa lokasi berada dekat dengan kawasan hutan lindung sehingga petugas melakukan pemadaman untuk mencegah api bergerak lebih jauh.
Penanganan melibatkan BPBD bersama TNI-Polri, pemadam kebakaran dan relawan, termasuk Kolaka dan Destana. Kondisi angin kencang menjadi tantangan tersendiri karena api dapat bergerak cepat mengikuti arah angin.
Salah satu kejadian bahkan berada di sekitar usaha masyarakat dan sempat mendekati kandang ayam. Petugas berhasil mengendalikan api sebelum mencapai fasilitas tersebut.
“Lokasinya belum sampai mengenai kandang ayam, tetapi memang api sudah mendekat. Petugas langsung melakukan penanganan dan berhasil mengendalikannya. Apalagi malam itu anginnya cukup kencang dari arah laut sehingga pergerakan api cukup cepat,” jelas Yonsep.
Menurut Yonsep, kawasan hutan hingga saat ini belum tersentuh api. Patroli dari pihak kehutanan terus dilakukan untuk mencegah kebakaran lahan merambat ke kawasan hutan.
Meski demikian, ia mengingatkan dampak kebakaran tidak berhenti pada asap. Kerusakan vegetasi dapat mengganggu ekosistem dan mengurangi kemampuan kawasan dalam menyerap air yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat.
“Yang harus dijaga bukan hanya bagaimana asapnya tidak mengganggu masyarakat. Hutan itu punya fungsi yang jauh lebih panjang. Kalau tutupan hutan rusak karena terbakar, kemampuan kawasan untuk menyerap air juga berkurang. Padahal sumber air itu sangat penting untuk kebutuhan masyarakat dan bahan baku PDAM,” katanya.
Ancaman kebakaran dinilai masih tinggi karena kondisi cuaca kering diperkirakan berlanjut. BPBD Tarakan telah menetapkan siaga darurat kering sebagai dasar kesiapsiagaan menghadapi kekeringan maupun cuaca ekstrem.
“Siaga darurat kering sudah saya tandatangani. Jadi yang kita siapkan bukan hanya menghadapi persoalan kekeringan, tetapi juga dampak cuaca ekstrem yang bisa muncul bersamaan. Dari sisi BPBD, personel dan penanganan sudah disiapkan, termasuk koordinasi dengan dinas terkait, TNI-Polri dan BMKG,” ujar Yonsep.
Koordinasi tersebut juga berkaitan dengan ketersediaan air untuk pemadaman. Jika kebakaran meluas dan membutuhkan penanganan lebih besar, mobilisasi sumber air dari lokasi yang tersedia di sekitar wilayah terdampak akan dilakukan.
“Kalau kondisi kering seperti ini, persoalannya bukan hanya api, tetapi juga sumber air. Karena itu kita sudah siapkan koordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan sumber air yang ada bisa dimobilisasi ketika dibutuhkan untuk pemadaman,” katanya.
Terkait penyebab, Yonsep menyebut aktivitas manusia menjadi salah satu pemicu kebakaran. Kebiasaan masyarakat membakar lahan untuk membuka atau membersihkan area perkebunan berisiko menjadi tidak terkendali ketika dilakukan pada kondisi panas dan angin kencang.
“Dari sisi pemicu, aktivitas manusia memang ada. Masyarakat masih melakukan pembakaran untuk membersihkan atau membuka lahan perkebunan. Ketika dilakukan pada kondisi panas dan angin kencang, api sangat mudah lepas dari area yang sudah disiapkan. Untuk kejadian di WT, ada dugaan kondisi di bawah permukaan ikut membuat api sulit dikendalikan,” ungkapnya.
Yonsep meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Sebelum membakar, warga diminta berkoordinasi dengan pihak kehutanan, BPBD maupun aparat kewilayahan agar prosesnya dapat diawasi.
“Kita tidak bisa begitu saja melarang masyarakat membuka lahan untuk berkebun, tetapi cara melakukannya harus diperhatikan. Kalau memang akan membakar, koordinasikan dulu dengan Kehutanan atau BPBD. Paling tidak bisa disampaikan kepada lurah atau camat sehingga ada yang mengawasi dan langkah pencegahan bisa dilakukan kalau api mulai tidak terkendali,” tegasnya.
Untuk pembakaran dengan luasan besar, masyarakat juga diminta berkoordinasi dengan BPBD agar petugas dapat melakukan pengawalan. Material yang mudah terbakar di sekitar lokasi pembakaran perlu terlebih dahulu dipindahkan atau diamankan.
“Kalau lahannya cukup luas dan memang harus dilakukan pembakaran, sebaiknya jangan dilakukan sendiri. Hubungi petugas supaya bisa dikawal. Bahan-bahan yang mudah terbakar di sekitar lokasi juga harus diamankan terlebih dahulu agar api tidak merambat,” pungkas Yonsep. (saf)










