TARAKAN, Headlinews.id – Pengembangan populasi ayam petelur hingga 100 ribu ekor menjadi salah satu gagasan untuk meningkatkan produksi telur di Kalimantan Utara. Jumlah tersebut dapat dikembangkan secara bertahap melalui beberapa sentra peternakan dengan menyesuaikan kondisi dan kesiapan masing-masing wilayah.
Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kaltara, Jufri Budiman, mengatakan produksi telur lokal perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah. Berdasarkan estimasi yang disusunnya, kebutuhan telur ayam di Kaltara mencapai sekitar 4,8 ton per hari atau 144 ton per bulan.
“Kalau kebutuhan telur kita sekitar 4,8 ton per hari, berarti dalam satu bulan kurang lebih 144 ton dan setahun sekitar 1.728 ton. Angka kebutuhan ini harus menjadi dasar ketika kita menentukan berapa produksi telur lokal yang perlu disiapkan,” kata Jufri.
Menurutnya, target 100 ribu ekor ayam petelur dapat menjadi salah satu skala pengembangan yang diterapkan secara bertahap. Populasi tersebut tidak harus ditempatkan dalam satu kawasan, melainkan dapat dibagi ke beberapa sentra peternakan.
“Contohnya bisa dibuat 10 sentra, masing-masing 10 ribu ayam petelur. Kalau dijumlahkan menjadi 100 ribu ayam. Pengembangannya bertahap, sehingga setiap sentra bisa dilihat perkembangannya dan kemampuan produksinya,” ujarnya.
Jufri menyebut sentra peternakan dapat dikembangkan di Bulungan, Tarakan, Nunukan, Malinau maupun Tana Tidung. Penentuan lokasi tetap perlu memperhatikan berbagai kebutuhan dasar peternakan, seperti ketersediaan lahan, air, listrik dan akses menuju pasar.
“Sentra produksinya bisa disesuaikan dengan kondisi daerah. Bulungan bisa, Tarakan bisa, Nunukan, Malinau maupun Tana Tidung juga bisa, sepanjang tersedia lahan, air, listrik dan akses pasar. Jadi tidak bisa hanya melihat jumlah ayamnya saja,” jelasnya.
Dengan populasi 10 ribu ayam produktif dalam satu sentra, tingkat produksi sekitar 80–90 persen secara kasar dapat menghasilkan 8.000–9.000 butir telur per hari. Jika dikembangkan pada 10 sentra dengan total 100 ribu ayam, potensi produksi dapat mencapai sekitar 80 ribu hingga 90 ribu butir telur per hari.
Potensi tersebut secara kasar setara dengan sekitar 2,4 juta hingga 2,7 juta butir telur dalam satu bulan apabila produktivitas berada pada kisaran tersebut. Perhitungan itu menjadi gambaran kapasitas produksi apabila seluruh sentra mampu mencapai tingkat produktivitas yang sama.
Jufri mengatakan pengembangan peternakan ayam petelur tidak cukup hanya dengan menambah populasi ayam. Berbagai kebutuhan produksi harus dipersiapkan sejak awal agar usaha peternakan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Jangan hanya membangun kandang. Harus ada bibit atau pullet, pakan, obat dan vaksinasi, tenaga teknis, egg tray dan pengemasan, kendaraan distribusi, pembiayaan sampai kepastian pasar. Semua itu bagian dari programnya,” kata Jufri.
Menurutnya, ketersediaan bibit, pakan dan kebutuhan kesehatan ternak berpengaruh langsung terhadap produktivitas ayam. Pengelolaan pascapanen juga perlu diperhitungkan agar telur yang dihasilkan dapat ditangani dan disalurkan dengan baik.
Ia juga menilai pengembangan sentra peternakan perlu dilakukan dengan memperhatikan kesiapan pengelola. Masyarakat atau kelompok yang menjalankan usaha harus memiliki kemampuan dalam pemeliharaan ayam serta pengelolaan produksi.
“Kita harus menghitung dari awal sampai telur itu keluar dan bisa dipasarkan. Jangan berhenti pada kandang dan ayam. Ada pakan, kesehatan ternak, tenaga teknis, pengemasan dan distribusi yang semuanya harus berjalan,” ujarnya.
Pengembangan secara bertahap juga memungkinkan setiap sentra dievaluasi sebelum jumlah populasi diperluas. Evaluasi tersebut dapat melihat tingkat produktivitas, kebutuhan operasional dan kemampuan pengelolaan masing-masing sentra.
Jufri menilai peningkatan produksi telur lokal perlu disesuaikan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat Kaltara. Perbandingan antara kebutuhan dan produksi akan menunjukkan seberapa besar pasokan telur yang masih harus didatangkan dari luar daerah.
“Kebutuhan telur harus kita hitung dengan jelas, kemudian kita lihat kemampuan produksi lokal. Dari sana bisa diketahui berapa kebutuhan masyarakat dan berapa produksi peternak Kaltara yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut,” tutup Jufri. (saf)










