TARAKAN, Headlinews.id – Kabut asap kembali mengganggu operasional penerbangan di Bandara Juwata Tarakan, Senin (31/8/2026). Jarak pandang di kawasan bandara sempat turun hingga sekitar 500 meter, menyebabkan dua pesawat yang hendak mendarat mengalihkan penerbangan (divert) ke Balikpapan.
Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan, Fahruddin Rahmat, mengatakan dampak asap telah dirasakan di Tarakan sejak 10 Agustus 2026. Asap tersebut merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan yang terbawa angin dari arah selatan menuju utara.
Berdasarkan laporan Stasiun Meteorologi Juwata, titik karhutla paling banyak berada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Di Kalimantan Utara terdapat satu titik yang dilaporkan berada di wilayah Tanjung Palas Timur, Bulungan.
“Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut adanya asap yang bergerak dan terdampak juga sampai ke wilayah Kota Tarakan. Dari pertama kali dilaporkan, dampaknya ada, namun tidak terlalu signifikan karena jarak pandang masih sekitar 4 sampai 5 kilometer,” kata Fahruddin.
Kondisi kemudian memburuk dalam dua hari terakhir. Pada Minggu (30/8/2026), jarak pandang di wilayah Bandara Juwata sempat turun menjadi sekitar 1 kilometer pada pukul 14.00 Wita. Jarak pandang kemudian membaik menjadi sekitar 2 kilometer pukul 17.00 Wita dan mencapai 3 kilometer pada pukul 18.00 Wita.
Kondisi tersebut tidak sampai mengganggu penerbangan Minggu karena tidak terdapat jadwal penerbangan masuk ketika jarak pandang berada pada titik terendah. Setelah kondisi membaik pada malam hari, penerbangan Lion Air rute Surabaya-Tarakan dan penerbangan kargo Express Cargo Airlines dapat melakukan pendaratan maupun keberangkatan.
Senin pagi, operasional penerbangan juga masih berjalan. Citilink dan Super Air Jet sempat mendarat, sedangkan Lion Air juga sempat berangkat. Kondisi pagi masih memungkinkan karena jarak pandang memenuhi standar minimum penerbangan.
Memasuki siang hari, jarak pandang kembali turun. Sekitar pukul 14.00 Wita, jarak pandang dilaporkan sekitar 1 kilometer dan semakin memburuk menjadi 500 meter pada pukul 14.30 Wita.
“Mulai tadi pukul 14.00, dampaknya cukup signifikan. Kembali lagi asap kemudian jarak pandang terpengaruh sampai jarak pandang hanya kurang lebih 1 km atau 1.000 meter, dan bahkan pada pukul kurang lebih 14.30 semakin memburuk sampai dengan jarak pandang hanya kurang lebih 500 meter,” ujarnya.
Penurunan jarak pandang tersebut berdampak pada dua penerbangan yang hendak masuk ke Tarakan. Pesawat Super Air Jet IU 535 rute Balikpapan-Tarakan yang dijadwalkan landing sekitar pukul 13.05 Wita sempat melakukan holding selama kurang lebih 25 menit sebelum memutuskan divert ke Balikpapan.
“Pesawat IU 535 sempat melakukan holding di atas kurang lebih selama 25 menit, dan pada akhirnya memutuskan untuk divert kembali ke Balikpapan. Sampai saat ini masih menunggu perkembangan lebih lanjut cuaca dan jarak pandang yang ada di Bandara Juwata,” jelas Fahruddin.
Penerbangan Batik Air ID 6675 rute Jakarta-Tarakan juga terdampak. Pesawat yang dijadwalkan mendarat sekitar pukul 14.06 Wita sempat melakukan holding sekitar 20 menit sebelum akhirnya mengalihkan pendaratan ke Balikpapan.
“Batik Air ID 6675 sempat melakukan holding atau berputar di atas dulu kurang lebih 20 menit, dan akhirnya memutuskan untuk divert juga ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan,” katanya.
Penumpang dari kedua penerbangan tersebut kemudian turun dari pesawat di Balikpapan dan masih menunggu perkembangan kondisi cuaca di Bandara Juwata.
Fahruddin menjelaskan, berdasarkan chart dalam Aeronautical Information Publication (AIP), jarak pandang minimum bagi pesawat yang melakukan pendekatan instrument approach di Bandara Juwata berada pada angka 2.500 meter. Keputusan pendaratan maupun take off tetap berada pada pertimbangan pilot.
“Untuk melakukan instrument approach prosedurnya itu di jarak pandang minimum memang 2.500 meter. Meskipun keputusan untuk melakukan pendaratan maupun take off itu ada di pilot decision atau di tangan pilot,” ujarnya.
Pada pukul 16.00 Wita, jarak pandang mulai membaik menjadi sekitar 1 kilometer. Angka tersebut masih berada di bawah batas minimum instrument approach sehingga perkembangan cuaca tetap dipantau.
Selain dua penerbangan yang telah divert, masih terdapat penerbangan lain yang menunggu kondisi membaik. Fahruddin menyebut Super Air Jet dengan jadwal sore dan Lion Air rute Surabaya-Tarakan masih belum masuk ke Tarakan.
Batik Air telah mengajukan slot masuk Tarakan sekitar pukul 17.30 Wita. Kepastian keberangkatan masih bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan keputusan pihak maskapai.
“Kalau untuk kepastiannya apakah akan diterbangkan dari Balikpapan ke sini langsung atau masih tetap menunggu dulu sampai kurang lebih jarak pandang membaik, mungkin dari maskapai nanti yang bisa lebih menyampaikan,” kata Fahruddin.
Hingga saat keterangan diberikan, belum ada penerbangan dari Tarakan yang dinyatakan cancel. Pihak bandara terus melakukan koordinasi dengan AirNav Tarakan, Stasiun Meteorologi Juwata dan maskapai.
Fasilitas pendukung penerbangan seperti runway, taxiway, apron, PAPI (Precision Approach Path Indicator) dan runway light dipastikan tetap dalam kondisi serviceable. Personel serta peralatan juga disiagakan menghadapi kondisi operasional di luar normal sesuai SOP.
“Personel yang ada di lapangan juga kita tetap koordinasikan untuk disiagakan, selalu berkoordinasi baik dengan AirNav, dengan Stasiun Meteorologi, dan maskapai yang ada. Kemudian juga kami selalu upayakan untuk siap mengantisipasi hal-hal lain yang di luar kondisi normal,” tuturnya.
Fahruddin berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga jarak pandang kembali memenuhi ketentuan dan operasional penerbangan dapat berjalan normal.
“Harapannya semoga kondisi ini tidak berlarut-larut dan semakin lebih baik, sehingga operasional penerbangan juga bisa berjalan dengan normal kembali dengan baik tanpa ada kendala,” pungkasnya. (saf)










