TARAKAN, Headlinews.id – Kabut asap menyelimuti Kota Tarakan pada Minggu (30/8/2026). Kondisi tersebut diduga merupakan kiriman dari wilayah luar Tarakan, seiring terdeteksinya puluhan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan Utara dan arah angin dominan dari selatan.
Forecaster On Duty BMKG Tarakan M. Hatta Rachim mengatakan, berdasarkan pantauan citra satelit hingga pukul 15.00 Wita, terdapat 70 titik panas (hotspot) di Kalimantan Utara.
Sebanyak 68 titik berada di Kabupaten Bulungan, satu titik di Kabupaten Malinau dan satu titik di Kabupaten Nunukan. Sementara itu, hingga siang hari belum terpantau adanya titik api di wilayah Kota Tarakan.
“Jumlah sebaran titik panas atau hotspot terpantau sejumlah 70 titik, yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Bulungan sebanyak 68 titik, satu titik di wilayah Kabupaten Malinau dan satu titik di Kabupaten Nunukan,” kata Hatta.
Sementara itu, arah angin dominan berembus dari selatan dengan kecepatan rata-rata 5–10 knot. Kondisi tersebut menjadi dasar BMKG mengindikasikan kabut asap yang pekat di Tarakan berasal dari wilayah luar kota.
“Dapat diindikasikan pekatnya kabut asap yang terjadi di Kota Tarakan siang ini adalah kiriman dari wilayah luar Kota Tarakan,” ujarnya.
Deteksi hotspot dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar NOAA20, S-NPP, TERRA dan AQUA. Satelit tersebut mendeteksi anomali suhu panas dibandingkan dengan kondisi di sekitarnya untuk memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan.
Hatta menjelaskan, observasi dilakukan pada siang dan malam hari untuk masing-masing satelit. Namun, kemampuan deteksi dapat terkendala kondisi atmosfer tertentu.
“Pada daerah yang tertutup awan atau blank zone, hotspot di wilayah tersebut tidak dapat terdeteksi,” jelasnya.
Kondisi kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang di Tarakan. Berdasarkan pemantauan BMKG, visibility saat ini berkisar 1.000 hingga 3.000 meter.
“Hingga saat ini terpantau jarak pandang hanya berkisar 1.000-3.000 meter. Pada saat jarak pandang terpantau 3.000 meter, operasional penerbangan, proses takeoff, masih dapat dilakukan,” kata Hatta.
Untuk kondisi cuaca, BMKG memprakirakan wilayah Kalimantan Utara dalam tiga hari ke depan secara umum cerah hingga cerah berawan pada pagi sampai sore hari.
Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpeluang terjadi di Kabupaten Bulungan, Malinau dan Nunukan. Hujan berpeluang terjadi pada malam hari dengan sebaran yang tidak merata.
“Sedangkan wilayah Kota Tarakan secara umum keadaan cuaca pada pagi sampai malam hari cerah-cerah berawan, berpeluang terjadi hujan dengan intensitas ringan pada dini hari dengan durasi singkat dengan sebaran wilayah yang tidak merata,” jelas Hatta.
Selain kondisi asap dan cuaca, BMKG juga mencatat tingkat kemudahan bahan bakar ringan terbakar di sebagian besar wilayah Kaltara berada pada kategori tinggi.
Berdasarkan hasil pantauan dan analisis terhadap indeks FFMC (Fine Fuel Moisture Code), sebagian besar wilayah Kalimantan Utara masuk kategori merah atau very high. Indeks tersebut menunjukkan tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran berdasarkan kondisi cuaca pada bahan-bahan ringan yang mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah.
“Indeks warna merah (very high) berarti tingkat mudahnya terbakar alang-alang dan dedaunan yang biasanya menutupi lantai hutan sangat tinggi,” ungkapnya.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan titik panas serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering,” tegas Hatta.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari juga diimbau menggunakan pelindung atau tabir surya serta menjaga kecukupan cairan tubuh untuk menghindari dehidrasi dan kelelahan.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG meminta masyarakat terus mengikuti perkembangan kondisi cuaca dan peringatan dini dari kanal informasi resmi.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan,” pungkas Hatta. (saf)










