TARAKAN, Headlinews.id– Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan terus memperluas jangkauan layanan pendidikan kesetaraan melalui kerja sama dengan berbagai lembaga.
Salah satu yang mulai dijajaki ialah pondok pesantren agar para santri yang belum memiliki akses pendidikan kesetaraan tetap dapat melanjutkan pendidikan sesuai jenjangnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan langkah tersebut diawali dengan mengidentifikasi pondok-pondok pesantren yang belum menyelenggarakan pendidikan kesetaraan.
Upaya itu dilakukan untuk membuka kesempatan bagi para santri memperoleh layanan pendidikan sekaligus ijazah sesuai jenjang yang ditempuh.
“Kami melakukan identifikasi ke pesantren-pesantren yang belum memiliki pembelajaran pendidikan kesetaraan. Dari situ kami mencoba menjalin kerja sama agar layanan pendidikan juga bisa menjangkau para santri,” ujarnya.
Menurut Patmaria, pendidikan yang berlangsung di lingkungan pesantren tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kehadiran SKB bukan untuk menggantikan sistem pembelajaran yang telah ada, melainkan memberikan layanan pendidikan kesetaraan bagi santri yang membutuhkan.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut disusun dengan menyesuaikan kondisi masing-masing pesantren. Penyesuaian diperlukan karena setiap lembaga memiliki jadwal kegiatan dan pola pembelajaran yang berbeda.
“Ada pesantren yang jadwalnya memang terlalu padat sehingga kami agak kesulitan untuk masuk memberikan pembelajaran. Itu menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi,” katanya.
Selain jadwal yang padat, mobilitas santri juga menjadi kendala dalam pelaksanaan program. Pergantian santri yang cukup dinamis membuat pendataan peserta didik harus terus diperbarui agar layanan pendidikan kesetaraan tetap berjalan.
“Ada juga beberapa pesantren yang sudah kami ajak bekerja sama, tetapi santrinya keluar masuk. Jadi data peserta didiknya juga harus terus kami perbarui,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, SKB membangun koordinasi dengan pengelola pesantren. Setiap ada santri baru yang membutuhkan layanan pendidikan kesetaraan, pihak pesantren diharapkan segera menyampaikan informasi kepada SKB agar proses pendataan dan pembelajaran dapat segera dilakukan.
“Kami memang meminta ketika ada santri baru, pihak pesantren menginformasikan kepada kami. Dengan begitu pembelajarannya bisa langsung berjalan dan mereka tidak tertinggal,” jelas Patmaria.
Ia menambahkan, pola kemitraan tersebut menjadi salah satu langkah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal.
SKB berharap semakin banyak lembaga yang membuka ruang kerja sama sehingga layanan pendidikan kesetaraan dapat menjangkau lebih banyak warga.
“Semakin banyak lembaga yang bekerja sama, tentu semakin banyak pula masyarakat yang bisa memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikannya melalui pendidikan kesetaraan,” tutupnya. (saf)










