TARAKAN, Headlinews.id – Sedikitnya delapan titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat terjadi di Kota Tarakan sepanjang Juni 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menilai mayoritas kejadian dipicu aktivitas pembukaan lahan saat kondisi cuaca kering yang kemudian menyebabkan api cepat meluas.
Data laporan bencana BPBD Kota Tarakan menunjukkan kejadian karhutla tersebar di beberapa wilayah, dengan konsentrasi terbanyak berada di kawasan Pantai Amal dan wilayah yang berbatasan dengan lahan terbuka.
Titik kejadian tercatat di Jalan Persemaian Pantai Amal pada 4 Juni, Jalan Ring Road RT 08 Pantai Amal pada 5 Juni, Jalan Gajah Mada RT 13 Kampung Anyar Pantai pada 7 Juni, Jalan Providen RT 11 Pantai Amal pada 18 Juni, Jalan Providen RT 05 Pantai Amal pada 20 Juni, serta Jalan P. Aji Iskandar RT 19 Juata Laut pada 21 Juni.
Selain karhutla, laporan yang sama juga mencatat kejadian bencana lain berupa cuaca ekstrem dan longsor di sejumlah lokasi. Pohon tumbang dilaporkan terjadi di depan Kantor Perumda Gunung Selatan dan Jalan Pulau Sapi Kelurahan Kampung Satu/Skip.
Sementara longsor dan pergeseran tanah tercatat di Jalan Rimba Raya RT 23 Juata Kerikil, Jalan Imam Bonjol RT 23 Pamusian, serta Jalan Danau Jempang RT 04 Pamusian.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tarakan, Yonsep, mengatakan peningkatan kejadian karhutla tidak terlepas dari kondisi cuaca yang mulai kering dalam beberapa waktu terakhir.
“Untuk karhutla itu berjumlah delapan titik. Kalau kita melihat polanya, masyarakat memanfaatkan cuaca kering untuk membuka atau membersihkan lahan,” ujarnya.
Menurut dia, aktivitas pembakaran yang dilakukan tanpa pengamanan menjadi faktor yang membuat api mudah merambat.
“Karena kebakaran ini dilakukan tanpa pengendalian yang cukup. Akibatnya api menyebar ke wilayah sekitar yang dekat dengan aktivitas masyarakat,” katanya.
BPBD juga mencatat salah satu kejadian terbaru di kawasan Providen, Pantai Amal, sempat berdampak pada fasilitas milik warga.
“Kasus terakhir kemarin di wilayah Amal, di Providen, mengakibatkan satu kandang ayam terbakar,” kata Yonsep.
Meski tidak terdapat korban maupun kerugian besar karena kandang dalam kondisi kosong, kejadian tersebut menjadi peringatan bahwa kebakaran lahan dapat dengan cepat mendekati kawasan permukiman.
“Sementara kandangnya tidak berisi. Tapi kalau kebakaran sudah membesar, sangat sulit dikendalikan. Itu sebabnya edukasi kepada masyarakat menjadi penting,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD mengimbau masyarakat yang melakukan pembukaan lahan agar menerapkan langkah pencegahan.
Menurut Yonsep, pembakaran lahan tidak dilakukan secara sembarangan dan harus disertai pengawasan.
“Kita tidak melarang masyarakat melakukan aktivitas pembakaran kebun. Tetapi harus melalui tahapan, seperti membuat pembatas area yang dibakar, menjaga selama proses berlangsung, menyediakan tampungan air, dan menyiapkan alat pemadaman,” ucapnya.
Ia juga meminta masyarakat berkoordinasi dengan BPBD maupun Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) apabila aktivitas dilakukan pada area yang lebih luas.
Selain ancaman karhutla, BPBD turut mengingatkan masyarakat terhadap potensi berkurangnya ketersediaan air selama periode cuaca kering.
“Tarakan memang tidak selalu mengalami periode kering yang panjang, tetapi dampaknya cukup besar. Karena itu masyarakat harus mulai menghemat penggunaan air dan menjaga sumber air yang tersedia,” tutup Yonsep. (saf)










