TARAKAN, Headlinews.id – Kekosongan layanan dokter spesialis bedah saraf anak di RSUD dr. Jusuf SK Tarakan diakui masih menjadi tantangan yang belum teratasi hingga saat ini.
Manajemen rumah sakit menyebut kondisi tersebut bukan disebabkan penghentian layanan, melainkan karena belum adanya dokter pengganti setelah tenaga spesialis sebelumnya memilih melanjutkan praktik di luar daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis B., Sp.PK., MH menjelaskan dokter bedah saraf anak terakhir masih aktif memberikan pelayanan hingga Mei 2026.
Rumah sakit sebenarnya telah berupaya mempertahankan tenaga tersebut, termasuk menawarkan perpanjangan kerja, namun keputusan akhir tetap berada pada dokter yang bersangkutan.
“Kontrak sudah kami coba lanjutkan, tetapi yang bersangkutan memilih bertugas di Palangkaraya. Pertimbangannya lebih dekat dengan domisili keluarga dan akses ke daerah asal,” kata Budy, Minggu (21/6/2026).
Sejak layanan tersebut kosong, rumah sakit mengaku bergerak mencari alternatif agar kebutuhan pasien tetap dapat dipenuhi. Menurut Budy, pencarian dokter pengganti dilakukan melalui komunikasi dengan sejumlah rumah sakit pendidikan dan institusi akademik yang memiliki program pendidikan bedah saraf.
RSUD Jusuf SK telah membuka komunikasi dengan beberapa pusat pendidikan kedokteran, di antaranya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan RSUP dr. Kariadi Semarang.
Dari hasil koordinasi tersebut, rumah sakit memperoleh informasi bahwa tambahan lulusan spesialis baru diperkirakan tersedia dalam beberapa bulan mendatang.
“Informasi sementara yang kami terima, kemungkinan ada lulusan baru setelah pertengahan tahun. Karena itu kami diminta menunggu sampai proses penempatan berikutnya dibuka,” ujarnya.
Menurut Budy, tantangan terbesar bukan hanya soal rekrutmen, tetapi juga mempertahankan dokter agar bersedia menetap di wilayah perbatasan. Pihaknya mengaku telah menyiapkan sejumlah skema dukungan bagi tenaga spesialis.
Ia mengatakan rumah sakit menawarkan insentif yang lebih kompetitif dibanding layanan spesialis lain, termasuk fasilitas kendaraan operasional dan tempat tinggal.
Namun dalam praktiknya, keputusan dokter kerap dipengaruhi faktor keluarga, pendidikan anak, hingga lokasi tempat tinggal.
“Kami tidak hanya bicara soal pendapatan. Banyak tenaga medis mempertimbangkan lingkungan keluarga, akses pendidikan dan kedekatan dengan kampung halaman,” katanya.
Budy menyebut persoalan serupa sebelumnya juga pernah terjadi pada layanan spesialis lain. Salah satunya saat rumah sakit berupaya menghadirkan dokter bedah jantung, namun mengalami kesulitan mendapatkan tenaga yang bersedia ditempatkan di Tarakan.
“Pernah ada beberapa lulusan baru, tetapi tidak ada yang memilih ke sini. Akhirnya kami mencari pola kerja sama dengan rumah sakit lain untuk menutup kebutuhan layanan,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, manajemen rumah sakit mengaku telah membuka komunikasi dengan Kementerian Kesehatan guna mencari opsi percepatan pemenuhan tenaga dokter spesialis. Salah satu alternatif yang sempat dibahas adalah pemanfaatan dokter lulusan luar negeri.
Namun opsi tersebut belum dapat dijalankan sepenuhnya karena masih mensyaratkan keberadaan dokter pendamping dengan kompetensi tertentu di rumah sakit tujuan.
“Ada opsi tenaga lulusan luar negeri, tetapi regulasinya tetap mewajibkan pendampingan dokter senior. Nah, itu yang saat ini masih menjadi tantangan,” jelasnya.
Selain itu, RSUD Jusuf SK juga berencana kembali memperkuat koordinasi dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta untuk membuka peluang dukungan tenaga medis maupun penguatan layanan bedah saraf.
“Awal Juli kami dijadwalkan melakukan pertemuan lanjutan untuk membahas kebutuhan SDM dan kemungkinan dukungan pelayanan,” katanya.
Menanggapi keluhan masyarakat terkait alat pemeriksaan radiologi yang sempat disebut mengalami gangguan, Budy memastikan pelayanan penunjang tetap berjalan dan tidak menghentikan pelayanan pasien.
Ia menjelaskan rumah sakit memiliki lebih dari satu alat pemeriksaan sehingga operasional tetap dapat dilakukan ketika salah satu unit menjalani perawatan.
“Kalau ada alat yang sedang diperbaiki, bukan berarti pelayanan berhenti. MRI masih tersedia dan CT Scan tetap beroperasi seperti biasa,” tegasnya.
Menurut Budy, secara umum layanan dokter spesialis di RSUD Jusuf SK masih tersedia dan berjalan normal. Saat ini kekosongan hanya terjadi pada layanan dokter bedah saraf anak.
Sebagai langkah jangka panjang, rumah sakit bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara juga menyiapkan penguatan SDM melalui pendidikan dokter spesialis dari putra daerah.
Saat ini, kata Budy, terdapat dokter asal Tarakan yang sedang menjalani pendidikan spesialis bedah saraf dan telah memiliki komitmen untuk kembali bertugas setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kami sedang menyiapkan solusi jangka panjang. Ada putra daerah yang sedang menempuh pendidikan spesialis dan nanti direncanakan kembali mengabdi di sini,” tutupnya. (saf)










