BALIKPAPAN, Headlinews.id – Kodam VI/Mulawarman resmi memulai pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang dipusatkan di Lapangan Dodikjur Kodam VI/Mulawarman, Rabu (17/06/2026).
Pembukaan diklat tersebut dihadiri dan dipimpin oleh Kasdam VI/Mulawarman, Brigjen TNI Andy Setyawan, S.Sos., M.I.P., yang hadir mewakili Pangdam VI/Mulawarman.
Brigjen TNI Andy Setyawan menegaskan tantangan pembangunan nasional saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada aspek pertahanan konvensional, melainkan juga pada penguatan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput, khususnya di wilayah desa dan pesisir.
Ia menyebutkan, ketahanan negara harus dibangun secara menyeluruh, termasuk melalui penguatan sektor ekonomi produktif yang mampu menopang kemandirian masyarakat di tengah tekanan global.
“Penguatan bangsa hari ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pertahanan, tetapi juga oleh kemampuan ekonomi rakyat di tingkat desa dan pesisir yang harus mampu berdiri mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Program SPPI tersebut dirancang sebagai upaya strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga karakter kepemimpinan dan kapasitas manajerial untuk mengelola potensi ekonomi lokal.
Selama pendidikan dan pelatihan, para peserta akan mengikuti pembinaan berbasis Latihan Dasar Kemiliteran dengan pendekatan pembentukan karakter, penguatan disiplin, serta peningkatan kompetensi teknis dan fisik.
Selain itu, peserta juga akan mendapatkan pembekalan khusus terkait pengelolaan koperasi serta pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih, yang menjadi salah satu fokus penguatan ekonomi berbasis komunitas pesisir.
Brigjen TNI Andy Setyawan menilai, peserta SPPI diharapkan tidak hanya menjadi lulusan pelatihan, tetapi mampu berperan aktif sebagai penggerak perubahan di wilayah masing-masing.
“Kami berharap seluruh peserta mampu membawa semangat perubahan, tidak hanya selesai sebagai peserta diklat, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia juga memberikan penekanan sejumlah nilai yang harus menjadi pegangan peserta selama mengikuti pendidikan, mulai dari kedisiplinan, integritas, hingga kemampuan beradaptasi dan berpikir inovatif dalam menghadapi tantangan di lapangan.
Lebih lanjut, ia menegaskan keberhasilan program ini tidak diukur dari selesainya proses pendidikan semata, melainkan dari dampak nyata yang dapat dihasilkan para peserta setelah kembali ke masyarakat.
“Ukuran keberhasilan program ini adalah ketika ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan dan memberikan dampak bagi penguatan ekonomi masyarakat di desa dan pesisir,” pungkasnya. (*)










