NUNUKAN, Headlinews.id – Lambatnya respons penanganan kebakaran di Kota Nunukan dinilai masih berpotensi terjadi akibat minimnya fungsi hidran kota. Dari hasil pengecekan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, hanya satu dari tujuh hidran yang dapat digunakan secara optimal.
Temuan tersebut diperoleh dalam inspeksi yang dilakukan Bidang Sarana dan Prasarana serta Peningkatan Kapasitas Aparatur Damkar Nunukan di sejumlah titik dalam wilayah Kota Nunukan, beberapa waktu lalu.
Pemeriksaan menunjukkan sebagian besar hidran tidak memiliki tekanan air yang memadai, sehingga tidak dapat diandalkan sebagai sumber suplai utama dalam kondisi darurat.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Damkar Nunukan, Arifin, mengatakan pengecekan dilakukan untuk mengetahui kondisi riil infrastruktur yang selama ini menjadi salah satu penunjang utama penanganan kebakaran di lapangan.
“Dari tujuh hidran yang kami periksa di beberapa titik di Kota Nunukan, hasilnya hanya satu yang masih memiliki tekanan air yang cukup baik dan benar-benar bisa digunakan secara optimal untuk kebutuhan pemadaman. Sementara yang lainnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga tidak bisa diandalkan saat kondisi darurat,” ujarnya.
Sejumlah hidran yang diperiksa berada di titik strategis seperti Jalan Tanjung, Sei Bolong, kawasan Lapter, hingga Jalan Fatahillah. Namun, sebagian besar tidak dapat dioperasikan saat dibutuhkan.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperlambat respons petugas di lapangan, terutama pada kejadian kebakaran yang membutuhkan suplai air cepat.
“Lokasi-lokasi yang kami cek ini sebenarnya berada di titik yang cukup penting karena merupakan area dengan aktivitas masyarakat dan tingkat kepadatan tertentu. Tetapi dari hasil di lapangan, sebagian besar hidran tidak dapat difungsikan sehingga ini menjadi kendala dalam mendukung proses pemadaman,” kata Arifin.
Ia menjelaskan, hidran kota memiliki peran vital sebagai sumber air bertekanan tinggi yang memungkinkan proses pemadaman dilakukan lebih cepat tanpa harus kembali ke sumber air utama.
“Fungsi hidran itu sangat krusial dalam penanganan kebakaran, karena idealnya bisa langsung menyediakan air bertekanan di lokasi kejadian. Dengan begitu petugas tidak perlu bolak-balik ke sumber air utama dan proses pemadaman bisa lebih cepat dilakukan,” ujarnya.
Selain mempercepat penanganan, hidran yang berfungsi baik juga dapat dimanfaatkan untuk pengisian ulang tangki mobil pemadam di lokasi kejadian.
“Kalau hidran dalam kondisi optimal, mobil damkar bisa langsung melakukan pengisian ulang di lokasi kebakaran. Ini sangat membantu karena waktu adalah faktor yang sangat menentukan dalam penanganan kebakaran,” jelasnya.
Namun saat ini, petugas Damkar Nunukan masih mengandalkan sumber air alternatif seperti kolam di kawasan Alun-alun Kota Nunukan ketika terjadi kebakaran di wilayah perkotaan.
“Selama ini memang kita masih cukup bergantung pada kolam di Alun-alun sebagai sumber air cadangan ketika hidran tidak bisa digunakan. Ini menjadi solusi sementara di lapangan,” kata Arifin.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan masih tingginya ketergantungan pada sumber air non-infrastruktur, sehingga diperlukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem hidran kota.
Arifin juga menyinggung pengalaman penanganan kebakaran di Jalan Rimba, di mana petugas sempat mengandalkan hidran di Jalan Fatahillah karena menjadi satu-satunya titik yang masih dapat digunakan.
“Pada beberapa kejadian kebakaran, termasuk di Jalan Rimba, kita sempat memanfaatkan hidran di Fatahillah karena itu yang masih berfungsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kita masih sangat bergantung pada titik-titik tertentu saja, sehingga ketika titik itu tidak berfungsi, maka opsi kita menjadi terbatas,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan dan pemeliharaan secara berkelanjutan terhadap seluruh jaringan hidran.
Ia menegaskan, optimalisasi hidran tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kecepatan respons dalam penanganan bencana kebakaran.
“Ketika kebakaran terjadi, yang kita kejar adalah waktu. Hidran ini salah satu faktor penentu cepat atau tidaknya penanganan. Kalau tidak siap, maka dampaknya bisa memperlambat proses pemadaman di lapangan,” pungkasnya. (*/ab)










