TARAKAN, Headlinews.id – Penggunaan QRIS di Kalimantan Utara terus bertambah seiring semakin luasnya akses pembayaran digital. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara mencatat sekitar 120 ribu masyarakat telah menggunakan QRIS di wilayah tersebut.
Kepala KPwBI Kaltara Agus Taufik mengatakan pertumbuhan tersebut terlihat dari peningkatan frekuensi maupun nominal transaksi. Perkembangan jaringan komunikasi dan telekomunikasi turut menjadi faktor yang memudahkan masyarakat mengakses pembayaran digital.
“Sekarang pengguna QRIS di Kalimantan Utara sudah sekitar 120 ribu. Dari sisi frekuensi transaksi terus meningkat, begitu juga dari sisi nominal. Perkembangannya semakin pesat karena jaringan komunikasi dan telekomunikasi juga semakin mendukung penggunaan layanan pembayaran digital,” ujar Agus.
Perluasan penggunaan QRIS juga menjangkau pelaku usaha, termasuk UMKM. Kanal pembayaran tersebut memberikan pilihan transaksi bagi masyarakat dan pelaku usaha yang semakin terbiasa dengan layanan digital.
Agus mengatakan pertumbuhan tersebut masih dapat diperluas dengan dukungan infrastruktur telekomunikasi yang lebih merata. Kondisi jaringan menjadi bagian penting agar layanan pembayaran digital dapat digunakan masyarakat di berbagai wilayah Kaltara.
“UMKM juga semakin mudah menggunakan QRIS. Karena itu dukungan pemerintah sangat penting, terutama bagaimana jaringan telekomunikasi bisa semakin merata ke berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan akses. Kalau infrastrukturnya semakin baik, masyarakat juga semakin mudah melakukan transaksi digital,” katanya.
Perbankan turut menjadi bagian dari perluasan akseptasi QRIS. Bank Indonesia mendorong keterlibatan Himbara, bank swasta nasional dan Bank Pembangunan Daerah untuk memperluas penggunaan kanal pembayaran tersebut.
“Kerja sama dengan perbankan terus didorong. Ada Himbara, bank swasta nasional dan Bank Pembangunan Daerah. Dukungan dari semua pihak ini diperlukan supaya penggunaan QRIS semakin luas dan dapat diterima oleh berbagai kelompok masyarakat,” tuturnya.
Kelompok generasi muda termasuk yang cepat beradaptasi dengan pembayaran digital. Agus menyebut kebiasaan menggunakan berbagai layanan berbasis teknologi membuat QRIS lebih mudah diterima kalangan Gen Z dan milenial.
“Gen Z dan milenial memang lebih mudah beradaptasi dengan layanan digital. Mereka sudah terbiasa menggunakan e-commerce, sehingga ketika sistem pembayaran menggunakan QRIS, proses adaptasinya juga lebih cepat,” jelasnya.
Meski perluasan pembayaran digital terus dilakukan, Agus menegaskan transaksi tunai tetap memiliki tempat dalam sistem pembayaran. QRIS dan uang kartal berjalan berdampingan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Semua masyarakat kita harapkan semakin familiar dengan QRIS, tetapi bukan berarti pembayaran tunai dihilangkan. Pembayaran digital terus kita dorong, sementara transaksi tunai tetap berjalan. Keduanya saling melengkapi dan berjalan beriringan,” pungkas Agus. (rs)










