TARAKAN, Headlinews.id – Penurunan harga angkutan udara ikut menahan laju inflasi Kota Tarakan pada September 2026. Kelompok transportasi menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi, sementara tekanan kenaikan harga terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.
Berdasarkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026, inflasi month to month (m-to-m) Kota Tarakan tercatat 0,26 persen. Inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,79 persen, sedangkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) berada di angka 2,82 persen.
Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi mengatakan, pergerakan kelompok transportasi pada September berbeda dengan mayoritas kelompok pengeluaran lainnya. Kelompok tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen.
“Kalau kita lihat pergerakan September, transportasi justru memberikan pengaruh yang menahan inflasi. Kelompok ini mengalami deflasi 0,05 persen dan yang paling besar memberikan pengaruh adalah angkutan udara, dengan andil deflasi 0,0477 persen,” ujar Umar Riyadi.
Penurunan harga angkutan udara menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar. Selain itu, sejumlah komoditas lain juga mengalami penurunan harga, di antaranya sawi hijau dengan andil deflasi 0,0477 persen, bayam 0,0351 persen, kacang panjang 0,0155 persen dan emas perhiasan 0,0144 persen.
Ikan kembung juga memberikan andil deflasi sebesar 0,0072 persen, disusul bawang putih 0,0037 persen, besi beton 0,0017 persen, kangkung 0,0017 persen dan kunyit 0,0011 persen.
“Jadi pergerakannya tidak seluruhnya naik. Ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan ikut menahan inflasi. Selain angkutan udara, sawi hijau dan bayam juga cukup besar memberikan andil deflasi pada September,” katanya.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Kelompok ini memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi September.
Cabai rawit menjadi komoditas dengan andil inflasi paling besar, yakni 0,2475 persen. Berikutnya telur ayam ras 0,0509 persen, jagung manis 0,0221 persen, cabai merah 0,0145 persen dan soto 0,0125 persen. Beras memberikan andil 0,0092 persen, tomat 0,008 persen, laptop/notebook 0,0077 persen, bawang merah 0,0066 persen dan obat gosok 0,0056 persen.
“Untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau memang tekanannya masih cukup kuat. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar, kemudian telur ayam ras, jagung manis dan cabai merah. Komoditas-komoditas ini yang memberikan pengaruh terhadap kenaikan harga pada September,” jelas Umar.
Selain kelompok makanan, tiga kelompok pengeluaran lainnya turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan. Kelompok kesehatan, informasi, komunikasi dan jasa keuangan, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen.
Dengan inflasi bulanan 0,26 persen, inflasi Tarakan hingga September mencapai 1,79 persen. Sementara secara tahunan, inflasi tercatat 2,82 persen.
“Kalau secara tahunan, inflasi Tarakan September berada di 2,82 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Kaltara yang 2,56 persen, tetapi masih di bawah nasional yang mencapai 3,28 persen,” ungkapnya.
Jika dilihat secara bulanan, inflasi Tarakan 0,26 persen lebih rendah dibandingkan Kaltara 0,37 persen dan nasional 0,30 persen. Untuk inflasi tahun kalender, Tarakan 1,79 persen juga sedikit di bawah Kaltara 1,82 persen dan nasional 2,17 persen.
Sementara itu, posisi inflasi tahunan Tarakan justru berada di atas Kaltara. Selisihnya mencapai 0,26 poin persentase, sedangkan terhadap inflasi nasional Tarakan masih lebih rendah 0,46 poin persentase.
Memasuki Triwulan IV, perkembangan harga pada Oktober hingga Desember akan menentukan capaian inflasi Tarakan sepanjang 2026. BPS membuat perkiraan dengan asumsi pola inflasi pada periode tersebut sama dengan pola yang terjadi pada Triwulan IV 2025.
“Kalau pola pada Triwulan IV 2026 mengikuti pola yang terjadi pada Triwulan IV tahun lalu, inflasi Tarakan sepanjang 2026 diperkirakan berada di angka 2,82 persen. Tetapi ini tentu berdasarkan asumsi, perkembangan harga pada tiga bulan terakhir tetap menjadi faktor penentunya,” pungkas Umar. (saf)










