TARAKAN, Headlinews.id – Keterbatasan lahan pertanian dan tingginya kebutuhan pangan membuat pengendalian harga di Kota Tarakan membutuhkan strategi dari sisi produksi hingga distribusi. Penguatan pasokan pangan lokal menjadi salah satu langkah yang dikembangkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tarakan untuk mengantisipasi gejolak harga sejumlah komoditas.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, menjelaskan strategi tersebut dijalankan melalui program BELIMPUN TAKA TAGAS atau Bersatu Padu Menguatkan Ketahanan dan Stabilitas Harga Pangan di Kota Tarakan.
Program ini disusun dengan menyesuaikan kondisi Tarakan sebagai wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan lahan pertanian.
“Tarakan memiliki karakteristik yang berbeda karena keterbatasan lahan pertanian, sementara kebutuhan pangan terus meningkat. Kondisi ini membuat pengendalian inflasi perlu dilakukan dengan memperkuat produksi sekaligus menjaga kelancaran distribusi pangan,” ujar Agus.
Program tersebut mencakup tiga inovasi utama, yakni peningkatan produktivitas cabai melalui Smart Greenhouse berbasis Smart Farming, pengembangan budidaya ikan bandeng dengan pupuk alternatif berbasis probiotik, serta Kerja Sama Antar Daerah (KAD) yang didukung PELNI untuk meningkatkan efisiensi distribusi pangan.
Agus menyebut pengembangan dari sisi produksi diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan komoditas pangan di daerah. Pada saat yang sama, hasil produksi diperkuat dengan akses pasar dan jalur distribusi agar dapat terserap secara optimal.
“Produksi perlu diperkuat, tetapi setelah itu harus ada pasar dan distribusi yang mendukung. Pendekatan yang kami bangun mencakup seluruh rangkaian dari produksi, pemasaran sampai distribusi,” kata Agus.
Penerapan Smart Greenhouse menunjukkan peningkatan produktivitas cabai hingga 67 persen dibandingkan metode konvensional. Teknologi tersebut juga mampu menghemat penggunaan air hingga 30 persen, sehingga budidaya dapat dilakukan lebih efisien di tengah keterbatasan lahan.
Pada sektor perikanan, penggunaan pupuk alternatif berbasis probiotik dalam budidaya ikan bandeng mampu meningkatkan produksi sekitar 13 persen dengan biaya produksi yang lebih rendah. Inovasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Dari sisi distribusi, TPID mengembangkan kerja sama antardaerah dengan dukungan PELNI untuk memanfaatkan moda transportasi laut. Langkah ini ditujukan untuk menekan biaya pengiriman pangan menuju Tarakan yang selama ini turut dipengaruhi karakteristik geografis daerah kepulauan.
“Transportasi menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga harga pangan di Tarakan. Dengan kerja sama antardaerah dan dukungan moda angkutan laut, biaya distribusi bisa ditekan sehingga pasokan dapat masuk dengan lebih efisien,” tuturnya.
Penguatan rantai pasok juga dilakukan melalui business matching hasil produksi dengan program prioritas nasional. UMKM didorong masuk sebagai distributor melalui marketplace untuk memperluas akses pemasaran produk pangan yang dihasilkan.
Berbagai inovasi tersebut turut mengantarkan TPID Kota Tarakan meraih TPID Award 2026 sebagai TPID Kabupaten/Kota Berkinerja Terbaik Wilayah Kalimantan. Penghargaan tersebut diberikan atas pelaksanaan strategi pengendalian inflasi yang mengintegrasikan penguatan produksi, distribusi dan pemasaran pangan.
“Capaian ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi dapat dilakukan dengan menyesuaikan potensi dan persoalan daerah. Bagi Tarakan, penguatan produksi pangan lokal dan efisiensi distribusi menjadi bagian penting untuk menjaga ketersediaan pasokan serta kestabilan harga,” pungkas Agus. (rs/*)










