NUNUKAN, Headlinews.id – Sektor rumput laut yang menjadi unggulan Nunukan dinilai membutuhkan dukungan penataan ruang laut dan infrastruktur yang memadai.
Ketua Komisi II DPRD Nunukan, Andi Fajrul Syam menilai pengelolaan wilayah pesisir saat ini perlu diperkuat, terutama terkait zonasi pemanfaatan ruang laut agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak saling berbenturan.
Ia menyebut, tingginya aktivitas di wilayah laut berpotensi menimbulkan gesekan apabila tidak diatur secara jelas melalui regulasi yang terintegrasi.
“Ruang laut kita saat ini semakin padat dengan berbagai aktivitas, mulai dari budidaya, penangkapan ikan, hingga jalur pelayaran. Tanpa pengaturan yang jelas, potensi konflik di lapangan akan sulit dihindari,” ujar Andi Fajrul.
Ia juga menyoroti Nunukan tercatat sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia, dengan nilai produksi pada triwulan pertama 2025 mencapai sekitar Rp250 juta. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh tata kelola ruang yang optimal.
Menurutnya, diperlukan penguatan kebijakan daerah untuk menjaga stabilitas harga rumput laut agar tidak merugikan para petani pesisir.
“Petani rumput laut perlu perlindungan dari sisi harga. Karena itu, regulasi daerah bisa menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas pasar,” katanya.
Selain isu zonasi, Komisi II juga menyoroti kondisi infrastruktur pesisir di Kelurahan Tanjung Harapan. Sejumlah jembatan jeramba dilaporkan mengalami kerusakan bahkan terputus di beberapa titik RT.
Padahal, wilayah tersebut sebelumnya telah ditetapkan sebagai kampung perikanan terbaik oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, namun kondisi infrastruktur dinilai belum sepenuhnya mendukung aktivitas masyarakat.
“Kerusakan infrastruktur ini cukup menghambat aktivitas warga, terutama dalam proses budidaya dan distribusi hasil rumput laut,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pembenahan infrastruktur pesisir harus menjadi perhatian bersama agar potensi kelautan Nunukan dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih maksimal dan berkelanjutan.
“Jika infrastruktur dan tata ruang ini bisa dibenahi secara serius, maka sektor rumput laut akan memberi dampak ekonomi yang jauh lebih besar bagi masyarakat pesisir Nunukan,” tutup Andi Fajrul. (*)










