TARAKAN, Headlinews.id – Kedekatan perairan Nunukan dan Sebatik dengan perbatasan Malaysia menjadikan kedua kawasan itu sebagai salah satu titik pengawasan utama aparat di Kalimantan Utara.
Komandan KP Balam Baharkam Polri, AKP Erwin Saputra, S.S.T.Pel., M.Mar., mengatakan patroli dilakukan di seluruh wilayah perairan Kalimantan Utara. Namun, kawasan Nunukan dan Sebatik menjadi perhatian khusus karena berbatasan langsung dengan Malaysia dan berpotensi dimanfaatkan sebagai jalur berbagai kejahatan lintas negara.
“Kalau yang paling rawan itu Nunukan dan Sebatik. Kalau fokus pengawasannya kita di seluruh wilayah Kalimantan Utara. Karena kapal kami bersandar di Tarakan, jadi kita fokus di sini. Tapi kita sesekali mobile ke Nunukan dan Sebatik,” ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Selain mengantisipasi penyelundupan narkotika, patroli juga difokuskan pada pengawasan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), illegal fishing, dan illegal logging.
Untuk mendukung pengawasan tersebut, KP Balam berkoordinasi dengan Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Kalimantan Utara serta sejumlah instansi terkait.
“Selain narkotika, kami juga melakukan pengawasan terhadap TPPO, illegal fishing, dan illegal logging. Koordinasi juga dilakukan dengan Gakkum Polairud Polda Kaltara, kemudian dengan BNN, Angkatan Laut, Bea Cukai, serta Basarnas,” katanya.
Kolaborasi tersebut salah satunya membuahkan hasil berupa pengungkapan penyelundupan sabu seberat 3,1 kilogram yang diduga diselundupkan dari Malaysia melalui jalur laut menuju Tarakan.
Kasus tersebut berhasil diungkap setelah petugas menerima informasi adanya rencana penyelundupan, kemudian melakukan pengawasan di wilayah Sebatik hingga perairan sekitar Tarakan.
“Kami mendapat informasi bakal ada penyelundupan sabu dari Malaysia ke Tarakan. Jadi pada saat mendapatkan informasi, kami bersama Gakkum Polairud Polda Kaltara melakukan surveillance di area Sebatik dan perairan sekitar Tarakan sampai dengan pengungkapan kasus ini,” ungkap Erwin.
Barang bukti dalam perkara itu telah dimusnahkan oleh Ditpolairud Polda Kalimantan Utara setelah penyidik memperoleh penetapan pengadilan, sementara proses penyidikan terhadap jaringan yang terlibat masih terus berjalan.
Sedangkan potensi tindak pidana perdagangan orang yang berkaitan dengan lalu lintas pekerja migran melalui jalur laut perbatasan Indonesia-Malaysia, Erwin mengungkapkan informasi yang diterima masih dalam tahap penyelidikan dan belum berkembang menjadi penanganan perkara.
“Untuk tenaga kerja imigran dari Malaysia masuk ke Indonesia atau dari Indonesia ke Malaysia itu lagi sedang dalam penyelidikan. Sejauh ini kami baru mendapat informasi untuk melakukan penyelidikan, jadi belum melakukan penanganan kasus,” jelasnya.
Di samping ancaman kejahatan lintas negara, kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan patroli laut di Kalimantan Utara. Angin kencang dan perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba, terutama pada malam hari, kerap memengaruhi pergerakan kapal patroli.
Menurut Erwin, karakteristik gelombang di perairan Juata Laut, Tarakan, juga menjadi salah satu yang paling menantang dibandingkan sejumlah wilayah lain yang menjadi area patroli.
“Selama di Kaltara ini tantangannya ya paling situasi perairan itu cuaca. Kalau kita malam mau patroli, angin dan badainya suka tiba-tiba. Jadi tantangan tersulit di sini cuma cuaca dan alam saja,” tuturnya. (saf)










