TARAKAN, Headlinews.id – Ketegangan geopolitik dunia dan perang dagang dinilai berpotensi mempengaruhi stabilitas harga komoditas di Kalimantan Utara sepanjang 2026. Kondisi global tersebut menjadi salah satu tantangan yang diwaspadai Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas inflasi daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik mengatakan ketidakstabilan geopolitik akibat konflik di Eropa dan Timur Tengah serta dampak perang dagang dunia dapat memicu kenaikan harga komoditas global yang kemudian berdampak terhadap daerah.
“Ketidakstabilan geopolitik akibat perang di Eropa dan Timur Tengah serta efek perang dagang memang menjadi risiko yang harus diwaspadai. Kondisi itu bisa mempengaruhi harga komoditas global, terutama pangan dan energi, yang pada akhirnya juga berdampak terhadap daerah,” ujarnya.
Menurutnya, Kalimantan Utara masih memiliki ketergantungan pasokan dari luar daerah sehingga rentan terhadap gejolak harga dan gangguan distribusi.
“Karena Kaltara masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, maka ketika terjadi gangguan distribusi atau kenaikan harga di tingkat global, dampaknya juga bisa terasa di daerah,” katanya.
Selain itu, kebutuhan pangan di Kaltara juga diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya kawasan industri dan meningkatnya realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kebutuhan pangan di Kaltara ke depan tentu akan semakin meningkat seiring perkembangan industri dan bertambahnya aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, stabilitas pasokan dan distribusi pangan harus benar-benar dijaga,” ucapnya.
Meski menghadapi sejumlah risiko tersebut, inflasi Kalimantan Utara hingga April 2026 masih terjaga dalam kisaran target nasional. Bank Indonesia mencatat inflasi Kaltara sebesar 2,68 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Secara bulanan, inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,02 persen. Kenaikan harga terutama dipicu meningkatnya harga tomat dan bawang merah akibat terbatasnya pasokan serta kenaikan tarif angkutan udara karena meningkatnya harga avtur.
Di sisi lain, tekanan inflasi turut tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan emas perhiasan.
“Secara umum inflasi Kaltara masih cukup terkendali dan berada dalam sasaran nasional. Artinya berbagai langkah pengendalian inflasi yang dilakukan selama ini masih cukup efektif,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltara bersama pemerintah daerah terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui framework 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga, TPID rutin menggelar Gerakan Pasar Murah (GPM) dan memperkuat program Mini Distribution Center (MDC) guna menjaga harga bahan pokok tetap stabil di masyarakat.
“Penguatan pasokan juga dilakukan melalui kerja sama antar daerah untuk komoditas pangan, percepatan program swasembada pangan, rehabilitasi irigasi, hingga optimalisasi lahan pertanian,” ungkapnya.
Pemerintah juga mendorong percepatan pembangunan infrastruktur distribusi seperti perluasan Pelabuhan Malundung dan pembangunan Jalan Usaha Tani di Kabupaten Bulungan agar distribusi hasil pertanian lebih lancar.
Di bidang komunikasi, pemanfaatan Sistem Informasi Pengendalian Inflasi dan Harga Terpadu (SIAP-SIGAP KU) terus diperkuat untuk memantau harga dan stok komoditas secara real time.
“Kami akan terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan seluruh stakeholder agar inflasi tetap terkendali, daya beli masyarakat terjaga, dan stabilitas ekonomi Kaltara bisa terus dipertahankan,” tutupnya. (rs)










