TARAKAN, Headlinews.id – Mengajar peserta didik pendidikan kesetaraan tidak dapat dilakukan dengan pola yang sama seperti di sekolah formal. Di Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan, proses pembelajaran menerapkan pendekatan andragogi yang disesuaikan dengan karakter, pengalaman hidup, dan kebutuhan belajar peserta didik dewasa.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn, mengatakan pendekatan tersebut diterapkan karena mayoritas peserta didik pendidikan kesetaraan memiliki latar belakang yang berbeda dengan siswa sekolah formal.
Sebagian telah bekerja, berkeluarga, hingga pernah berhenti sekolah dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga cara belajar juga harus menyesuaikan kondisi tersebut.
“Pola pembelajaran kita tentu berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Pembelajaran orang dewasa tidak bisa kita mengajarkan mereka yang harus benar-benar kita tuntun,” ujarnya.
Menurut Patmaria, peserta didik dewasa telah memiliki pengalaman hidup yang dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Materi yang diberikan tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga dikaitkan dengan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembelajaran orang dewasa ini untuk mereka, kami lebih menekankan bagaimana pembelajaran itu kena dengan pengalaman nyatanya mereka. Pengalaman mereka sehari-hari yang kita angkat,” katanya.
Ia menilai, pendekatan tersebut membuat peserta didik lebih mudah memahami materi dibandingkan apabila metode yang digunakan sama seperti di sekolah formal.
“Kalau kita memberikan pembelajaran yang sama dengan formal, mereka akan merasa gimana ya. Tapi kalau kita memberikan pembelajaran dan pembelajaran itu berhubungan dengan kehidupan mereka, pasti mereka akan paham,” ucapnya.
Patmaria menjelaskan, penerapan pendekatan andragogi juga mengubah peran pendidik dalam proses belajar. Guru dan tutor tidak lagi hanya menyampaikan materi, tetapi dituntut mampu menggali pengalaman peserta didik sebagai bagian dari pembelajaran serta menyesuaikan metode mengajar dengan karakter masing-masing peserta didik.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak bisa diperoleh begitu saja sehingga pendidik juga perlu memahami konsep pembelajaran orang dewasa melalui penguatan kapasitas dan pelatihan.
“Ini yang butuh pelatihan khusus. Kami mencoba mengubah bagaimana pembelajaran pendidikan orang dewasa itu seperti apa. Bagaimana cara kita memuliakan mereka dengan berbagai karakter mereka,” jelasnya.
Ia mengatakan, penguatan kapasitas tenaga pendidik terus dilakukan agar proses pembelajaran di SKB tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi mampu membangun partisipasi aktif peserta didik melalui pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki.
Pendekatan tersebut, lanjut Patmaria, menjadi salah satu ciri pendidikan kesetaraan di SKB karena peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam sehingga memerlukan metode belajar yang lebih fleksibel dibandingkan pendidikan formal.
“Yang kami lakukan adalah menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan mereka. Ketika materi itu dekat dengan kehidupan peserta didik, pembelajaran akan lebih mudah diterima dan lebih bermakna bagi mereka,” tutupnya. (*/saf)







