TARAKAN, Headlinews.id – Kasus bunuh diri yang kembali terjadi di kalangan remaja di Tarakan mendapat perhatian serius dari Majelis Ulama Indonesia. MUI menilai persoalan tersebut dipengaruhi banyak faktor mulai dari keluarga, lingkungan sosial, hingga tekanan mental.
Ketua MUI Tarakan, Abdul Samad mengatakan fenomena bunuh diri yang melibatkan remaja harus menjadi alarm bagi seluruh pihak agar lebih peduli terhadap kondisi mental generasi muda saat ini.
“Fenomena bunuh diri, terlebih yang melibatkan kalangan remaja, tentu menjadi keprihatinan bersama. Persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, tetapi harus dipahami sebagai masalah kemanusiaan, sosial, mental, spiritual, dan juga lingkungan keluarga,” ujarnya.
Menurut Abdul Samad, tekanan yang dihadapi remaja saat ini cukup kompleks. Mulai dari persoalan keluarga, tekanan akademik, ekonomi, pergaulan, hingga pengaruh media sosial yang dinilai semakin besar terhadap kondisi psikologis anak muda. “Tidak sedikit anak-anak muda yang terlihat ceria di luar, tetapi sebenarnya sedang memendam luka batin dan merasa sendirian,” katanya.
Ia menilai lemahnya komunikasi dalam keluarga menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan mental pada remaja. Banyak anak, kata dia, lebih banyak menerima tuntutan dibanding ruang untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi.
“Banyak remaja hidup serumah dengan orang tuanya, tetapi sebenarnya merasa jauh secara emosional. Ketika menghadapi masalah, mereka akhirnya memilih memendam sendiri,” jelasnya.
Selain itu, pengaruh media sosial juga dinilai memberi tekanan besar terhadap kondisi mental remaja. Menurutnya, budaya perbandingan di media sosial membuat banyak anak muda mudah merasa minder, gagal, hingga tidak berharga.
“Belum lagi adanya bullying, ujaran kebencian, dan tekanan untuk selalu terlihat baik di dunia maya,” ujarnya.
Dalam pandangan Islam, lanjut Abdul Samad, kehidupan merupakan amanah dari Allah SWT yang sangat berharga sehingga tindakan bunuh diri tidak dibenarkan.
Meski demikian, masyarakat juga diminta tidak menghakimi korban maupun keluarga yang ditinggalkan.
“Jangan sampai musibah yang terjadi justru dibalas dengan hujatan, cibiran, atau penghakiman kepada korban maupun keluarganya. Mereka justru membutuhkan empati, doa, dan dukungan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan spiritual bagi generasi muda agar tidak mudah rapuh saat menghadapi persoalan hidup.
“Ketika seseorang jauh dari nilai-nilai agama, hati menjadi lebih mudah kosong dan rapuh menghadapi ujian hidup. Padahal agama mengajarkan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan setiap kesulitan tidak berlangsung selamanya,” tuturnya.
MUI Tarakan meminta seluruh pihak mulai dari keluarga, sekolah, tokoh agama, hingga pemerintah untuk lebih aktif membangun lingkungan yang sehat bagi remaja, termasuk memperkuat layanan konseling dan pendampingan psikologis.
“Orang tua perlu lebih hadir mendengarkan anak-anaknya, bukan hanya menuntut. Sekolah jangan hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga kesehatan mental dan pembinaan karakter,” ucapnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar yang menunjukkan perubahan perilaku atau mengalami tekanan mental.
“Jika ada keluarga, sahabat, atau tetangga yang terlihat murung, menarik diri, atau mengalami perubahan perilaku, jangan diabaikan. Rangkul mereka, ajak bicara, dan bantu mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri,” tutup Abdul Samad. (saf)










