TARAKAN, Headlinews.id – Pengakuan adanya perbedaan sistem pengupahan menjadi alasan 15 pekerja asal Jawa Barat meninggalkan lokasi kerja di salah satu perusahaan perkebunan karet di wilayah Sajau, Kabupaten Bulungan. Para pekerja menyebut mereka awalnya menerima informasi akan mendapat gaji bulanan, namun setelah tiba di lokasi justru menjalani sistem kerja borongan.
Salah satu pekerja, Asis (41), mengatakan rombongan mereka berangkat dari Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, setelah mendapat tawaran pekerjaan sebagai penyadap karet.
Menurutnya, tawaran pekerjaan tersebut diterima sekitar satu minggu sebelum keberangkatan. Mereka dijanjikan pekerjaan dengan sistem gaji bulanan sekitar Rp3,9 juta, ditambah sejumlah fasilitas.
“Yang dari Jawa Barat ke sini itu 21 orang. Diiming-imingi gaji Rp3,9 juta. Katanya bulanan, absensi Rp400 ribu, dapat beras 20 kilo satu bulan,” ujar Asis saat ditemui, Jumat (7/8).
Asis menyebut informasi pekerjaan tersebut berasal dari dua orang yang dikenalnya sebagai Hendra dan Abdul Manan. Keduanya disebut menawarkan pekerjaan kepada warga di daerah asal mereka.
“Baru kenal juga. Ada teman ke teman, cerita-cerita. Akhirnya ditawarkan pekerjaan. Kami pikir daripada di rumah tidak ada kerjaan, lebih baik berangkat,” katanya.
Ia mengatakan keberangkatan rombongan tersebut diatur hingga menuju lokasi kerja di Kalimantan Utara. Para pekerja berangkat dari Jawa Barat menuju lokasi perkebunan karet di Sajau, Kabupaten Bulungan.
Namun setelah tiba di lokasi kerja, Asis mengaku kondisi yang mereka jalani tidak sesuai dengan informasi yang diterima sebelum keberangkatan.
Menurutnya, para pekerja tidak mendapatkan sistem gaji bulanan seperti yang dijanjikan, melainkan menjalani masa training dengan sistem pembayaran harian.
“Pas sampai di sana ternyata gajinya borongan. Kami ikut training satu bulan. Selama training itu sehari Rp75 ribu,” jelasnya.
Asis menyebut selama masa training, mereka bekerja sekitar 20 hari dengan pendapatan sekitar Rp1,5 juta. Setelah dikurangi sejumlah kebutuhan, uang yang diterima sebagian pekerja disebut tidak lagi utuh.
“Aslinya Rp1,5 juta. Karena ada potongan kasbon dan kebutuhan lainnya, saya terima sekitar Rp1,1 juta,” ujarnya.
Ia mengatakan para pekerja kemudian mulai mempertanyakan kondisi tersebut karena sistem kerja yang dijalani berbeda dengan gambaran awal yang membuat mereka bersedia datang ke Kalimantan Utara.
“Kalau sudah produksi katanya sistemnya borongan, tergantung hasil. Ada yang dapat banyak, ada yang sedikit. Kami perhatikan setiap hari, kalau seperti itu bagaimana untuk keluarga di rumah,” katanya.
Asis menyebut mereka juga baru mengetahui detail kontrak kerja setelah berada di lokasi. Menurutnya, dokumen yang diberikan mencantumkan masa kerja selama satu tahun, sementara informasi awal yang mereka terima mengenai pola penghasilan berbeda.
“Pas dikasih lembarannya, kontraknya satu tahun. Kami tanya, katanya ada slip gaji Rp3,9 juta. Tapi dari pihak HRD bilang tidak ada slip gaji itu, kerjanya borongan,” ungkapnya.
Karena merasa kondisi pekerjaan tidak sesuai dengan informasi awal, sebanyak 15 pekerja memilih meninggalkan lokasi kerja dan menuju Kota Tarakan. Mereka kemudian mendatangi Polres Tarakan untuk meminta arahan dan penanganan.
“Kami pergi dari mess karena merasa tidak sesuai dengan perjanjian awal. Jadi kami pulang mencari solusi,” ujarnya.
Dari 21 pekerja asal Jawa Barat yang sebelumnya berangkat ke Sajau, enam orang lainnya masih berada di lokasi kerja. Asis menyebut mereka berada di divisi berbeda sehingga belum ikut meninggalkan perkebunan.
Menurut Asis, persoalan yang mereka alami bukan karena adanya pembayaran kepada pihak perekrut, melainkan karena informasi pekerjaan yang diterima sebelum keberangkatan.
“Bukan masalah kami kasih uang ke dia. Bukan. Ketipunya di informasi kerja yang dijanjikan,” tegasnya.
Ia juga menyebut persoalan serupa disebut pernah dialami pekerja lain yang berada di lokasi tersebut. Namun, informasi tersebut masih berdasarkan cerita para pekerja.
“Bukan kami saja. Sebelumnya juga ada orang Palembang yang kabur enam orang. Dari Tarakan juga ada empat orang yang bareng sama kami,” katanya.
Saat ini, para pekerja masih menunggu proses penanganan setelah berada di Kota Tarakan. Asis mengatakan uang yang mereka miliki terbatas karena sebagian sudah digunakan selama perjalanan dan kebutuhan sehari-hari.
“Kami pegang uang paling Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Harapannya ada bantuan supaya bisa pulang ke kampung halaman,” pungkasnya. (saf)










