TARAKAN, Headlinews.id – Simpang 4 GTM Kota Tarakan berubah menjadi titik peringatan kemerdekaan ketika Bendera Merah Putih dibentangkan di tengah aktivitas masyarakat, Senin (17/8/2026) sekitar pukul 11.15 WITA. Kegiatan tersebut melibatkan unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, organisasi masyarakat hingga warga yang berada di sekitar lokasi.
Pembentangan Merah Putih tahun ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan detik-detik Proklamasi. Bagi BPK Oi Kota Tarakan, sekaligus menjadi penegasan simbol negara harus tetap ditempatkan sebagai bagian dari penghormatan terhadap perjuangan kemerdekaan, terlepas dari berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Ketua BPK Oi Kota Tarakan, Che Ageng, mengatakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah seharusnya disampaikan kepada pemerintah, bukan diarahkan kepada Merah Putih.
“Kalau kami, ketika tidak suka dengan kebijakan pemerintah segala macam, ya kita kritik pemerintahnya. Merah Putih harus tetap berkibar dan harus tetap kita bawa siapa pun musuhnya. Walaupun bangsa kita sendiri, tetap kita pakai Merah Putih,” ujar Che Ageng.
Menurutnya, Merah Putih memiliki kedudukan yang berbeda dengan pemerintah maupun kebijakan yang dikeluarkan. Bendera tersebut merupakan simbol perjuangan yang lahir dari sejarah panjang bangsa Indonesia.
“Bendera Merah Putih ini ada karena ada para pejuang-pejuang, pahlawan kita terdahulu. Hari ini kita masih mengibarkan, masih membentangkan bendera Merah Putih plus menyanyikan lagu Indonesia Raya adalah bentuk wujud kita untuk menghargai jasa pahlawan kita,” katanya.
Pandangan tersebut juga menjadi alasan Oi memilih Merah Putih sebagai simbol dalam berbagai kegiatan nasionalisme. Sejak awal, anggota Oi tidak menggunakan bendera kebesaran organisasi ketika menggelar kegiatan 17 Agustus karena tidak ingin momentum tersebut dianggap membawa kepentingan kelompok.
Che Ageng menjelaskan, tradisi itu berawal ketika anggota Oi yang sudah tidak lagi berada di lingkungan sekolah mencari cara untuk tetap terlibat dalam peringatan kemerdekaan. Mereka kemudian sepakat membawa sesuatu yang dapat menyatukan anggota dan masyarakat.
“Awalnya kami berpikir bagaimana teman-teman bisa ikut merasakan detik-detik Proklamasi dengan gaya mereka. Kami jangan bawa bendera kebesaran Oi karena takut ada kepentingan. Akhirnya muncul ide kami bahwa yang tepat adalah Merah Putih,” ujarnya.
Tradisi pembentangan bendera kemudian dimulai pada 2015. Saat itu, bendera yang digunakan berukuran sekitar 5 meter dengan lebar 3 meter.
Ukuran tersebut terus diperbesar secara bertahap hingga mencapai 17 x 8 meter. Che Ageng menyebut telah terjadi enam kali penambahan, baik pada bagian panjang maupun lebar.
“Di 2015 itu panjang bendera kita baru sekitar 5 meter, lebarnya 3 meter. Kemudian kami tambah besar dan kami patenkan menjadi 17 x 8, sesuai dengan tanggal dan bulan pada saat pelaksanaannya,” katanya.
Penambahan terakhir bendera dikerjakan selama sekitar dua bulan. Proses jahit dilakukan oleh penjahit lokal di kawasan eks Pasar Batu Tarakan yang telah menjadi langganan Oi sejak awal.
Bendera tersebut juga tidak hanya dikeluarkan setiap 17 Agustus. Menurut Che Ageng, Merah Putih berukuran besar itu turut digunakan ketika Oi menggelar kegiatan lain yang berkaitan dengan nasionalisme.
Pembentangan tahun ini melibatkan sekitar 30 orang yang bertugas memegang bendera. Kegiatan tersebut juga mendapat respons dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pengemudi ojek online, Tameng Adat Borneo, RAPI hingga warga yang datang secara sukarela.
Antusiasme masyarakat bahkan sudah terlihat sejak pagi. Che Ageng mengatakan warga mulai berdatangan sekitar pukul 09.00 WITA, meski pembentangan dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 11.17 WITA.
“Jam 9 pagi itu sudah datang. Bahkan ada WA masuk ke kami menanyakan kegiatan jadi atau tidak. Artinya, antusias masyarakat untuk hari ini menyaksikan pembentangan bendera kemudian sama-sama menghormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya itu untuk di Tarakan masih ada,” ujarnya.
BPK Oi Kota Tarakan saat ini memiliki sekitar 50 anggota aktif. Organisasi tersebut berkembang dari komunitas yang awalnya berkaitan dengan penggemar Iwan Fals sebelum menjadi organisasi masyarakat pada 1999.
Kegiatan Oi selama ini banyak bergerak pada bidang sosial dan edukasi. Pembentangan Merah Putih menjadi salah satu kegiatan yang dipertahankan untuk mengajak anggota dan masyarakat mengambil bagian dalam momentum kemerdekaan.
Makna peringatan tahun ini juga dirasakan berbeda oleh Oi. Che Ageng menyebut situasi sejumlah daerah yang mengalami musibah membuat peringatan kemerdekaan diwarnai keprihatinan. Momentum tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat agar masyarakat tetap saling membantu dan bangkit menghadapi kondisi sulit.
“Harapan kita dengan adanya kejadian begini warga masyarakat Indonesia ini kembali bangkit, kembali bahu-membahu karena ada saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan,” katanya.
Sementara itu, dari sisi pelaksanaan di jalan raya, penghentian arus lalu lintas dilakukan beberapa menit sebelum prosesi detik-detik Proklamasi. Kasat Lantas Polres Tarakan IPTU Ardi Wisnu Pradana mengatakan arus lalu lintas mulai dihentikan sekitar pukul 11.14 WITA.
“Dari teknis tadi kita sudah hentikan mulai pukul 11 lewat 14 menit, diawali dengan pembunyian sirine selama kurang lebih satu menit, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan teks Proklamasi, kemudian dilanjutkan dengan penghormatan kepada bendera Merah Putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya,” kata Ardi.
Hampir 100 personel gabungan dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Sekitar 55 personel berasal dari Polres Tarakan dan Direktorat Polda Kaltara yang berada di Tarakan. Sejumlah unsur pemerintah daerah dan organisasi masyarakat juga ikut dalam kegiatan.
Ardi mengatakan peringatan detik-detik Proklamasi di ruang publik menjadi agenda tahunan yang bertujuan mengajak masyarakat ikut mengenang perjuangan para pahlawan.
“Setiap tanggal 17 Agustus kita laksanakan peringatan tidak hanya secara seremonial di lapangan saja, melainkan di tempat-tempat umum guna mengajak seluruh masyarakat, khususnya Kota Tarakan, untuk sama-sama mengingat kembali jasa-jasa para pahlawan yang telah mendahului kita,” tandasnya. (saf)










