TARAKAN, Headlinews.id – Sebanyak 115 suspek campak tercatat di Kota Tarakan hingga awal Mei lalu. Mayoritas penderita merupakan anak usia 1 hingga 4 tahun, sementara Karang Anyar menjadi wilayah dengan kasus tertinggi.
Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Irsal mengatakan jumlah laporan suspek campak di Tarakan terus bertambah dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, seluruh pasien dilaporkan sembuh dan hingga kini belum ditemukan kasus kematian.
“Ada 115 suspek campak yang tercatat. Untuk kasusnya tersebar di hampir seluruh kelurahan di Tarakan dan yang tertinggi ada di wilayah Karang Anyar. Tetapi sejauh ini seluruh pasien sembuh dan tidak ada kasus kematian,” katanya.
Ia menjelaskan, mayoritas penderita campak merupakan anak usia 1 hingga 4 tahun. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah pasien yang belum lengkap imunisasi juga lebih banyak dibandingkan yang telah mendapatkan imunisasi lengkap.
“Tetapi bukan berarti anak yang sudah imunisasi tidak bisa terkena campak. Imunisasi itu berfungsi untuk membantu tubuh membentuk kekebalan sehingga ketika terpapar, gejalanya tidak terlalu berat dan risiko komplikasinya bisa ditekan,” ujarnya.
Menurut Irsal, imunisasi campak diberikan sebanyak tiga kali, yakni saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika memasuki usia sekolah dasar.
Dari hasil pendataan, sekitar 56 persen kasus campak berasal dari kelompok yang belum mendapatkan imunisasi, baik karena usia belum memenuhi syarat maupun belum pernah diimunisasi sama sekali.
“Sebagian memang ada yang belum cukup usia untuk mendapatkan imunisasi, tetapi ada juga yang memang belum pernah diimunisasi sama sekali. Jadi kondisi itu membuat risiko penularannya lebih tinggi dibanding anak yang sudah mendapatkan imunisasi lengkap,” katanya.
Ia menambahkan, laporan kasus campak seharusnya disampaikan oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk dokter praktik mandiri yang menjadi jejaring puskesmas.
Namun, tidak semua kasus tercatat apabila pasien hanya menjalani pengobatan di praktik mandiri dan tidak dirujuk lebih lanjut.
“Kalau pasien berobat ke rumah sakit biasanya laporan langsung masuk ke kami. Tetapi kalau hanya berobat di praktik mandiri, kadang tidak semua kasus terlaporkan. Kemungkinan angka di lapangan bisa saja lebih banyak dari data yang tercatat,” ujarnya.
Dalam penanganannya, setiap laporan kasus campak akan ditindaklanjuti dengan investigasi lapangan untuk melihat kemungkinan penularan di lingkungan sekitar tempat tinggal pasien.
Puskesmas juga memberikan vitamin A kepada pasien guna membantu mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan, terutama pada pasien yang mengalami ruam di kulit.
“Vitamin A diberikan untuk membantu mencegah komplikasi, terutama gangguan pada mata. Selain itu juga membantu proses regenerasi kulit pada pasien yang mengalami ruam akibat campak,” jelasnya.
Irsal mengatakan campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular melalui droplet atau percikan air liur. Anak yang sudah menunjukkan gejala disarankan tidak beraktivitas di sekolah maupun tempat umum selama kurang lebih satu minggu agar tidak menularkan kepada orang lain.
“Penularannya sangat mudah karena melalui percikan air liur. Jadi kalau anak sudah menunjukkan gejala seperti demam dan ruam, sebaiknya sementara tidak masuk sekolah dulu kurang lebih selama satu minggu supaya tidak menularkan ke teman-temannya,” katanya.
Ia menyebut komplikasi paling berat dari campak adalah pneumonia atau infeksi paru-paru. Namun kondisi pasien di Tarakan sejauh ini masih tergolong ringan dan dapat tertangani dengan baik.
“Komplikasi yang paling berat dari campak itu pneumonia atau infeksi paru-paru. Namun sejauh ini kasus yang ditemukan di Tarakan masih bisa tertangani dengan baik dan pasien yang menjalani perawatan semuanya sembuh,” pungkasnya. (saf)










