TARAKAN, Headlinews.id – Kualitas udara di Kota Tarakan masih bergerak fluktuatif. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan mencatat indeks standar pencemar udara (ISPU) sempat menembus angka 104 pada Selasa (1/9/2026), sebelum kembali turun ke level 89 pada Rabu (2/9/2026).
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tarakan, Chaizir Zain, mengatakan kenaikan tersebut terpantau dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara yang berada di Kantor DLH Tarakan.
“Memang kemarin terjadi tren kenaikan. Hasil pemantauan di stasiun pemantau kualitas udara menunjukkan ISPU sampai level 104. Kalau sudah di atas 100, masuk kategori tidak sehat,” kata Chaizir, Rabu (2/9/2026).
Namun kondisi tersebut mulai membaik sejak Rabu pagi. Angka ISPU turun menjadi 89 sehingga kembali berada dalam kategori sedang. Meski demikian, DLH belum menganggap kondisi sudah sepenuhnya aman karena pergerakan kualitas udara masih berada pada kondisi yang berubah-ubah.
“Mulai tadi pagi trennya menurun dan sampai sekarang 89. Jadi kembali menjadi sedang. Tetapi karena masih fluktuatif dan berada di area perbatasan antara sedang dan tidak sehat, masyarakat tetap kami imbau waspada,” ujarnya.
Chaizir menjelaskan, berdasarkan pemantauan DLH, jumlah titik api di wilayah Tarakan saat ini sudah berkurang. Karena itu, muncul dugaan bahwa kabut asap yang memengaruhi kualitas udara Tarakan berasal dari luar wilayah.
“Kalau titik api di Tarakan sendiri sudah berkurang. Kemungkinan besar ini asap kiriman dari luar pulau. Jadi yang kami pantau juga arah anginnya, dari mana dan ke mana hembusannya,” jelasnya.
Pemantauan arah angin menunjukkan adanya pergerakan dari wilayah selatan menuju Tarakan. Kondisi tersebut memungkinkan asap dari wilayah daratan Kalimantan terbawa ke Kota Tarakan, meski DLH masih melihat perkembangan perubahan arah angin dan sumber titik api.
“Dari hasil pemantauan ISPU, arah anginnya berasal dari selatan, dari arah daratan Kalimantan. Jadi kemungkinan asap yang masuk ke Tarakan berasal dari sana. Bisa saja berkurang karena titik apinya berkurang atau arah anginnya berubah,” tutur Chaizir.
Kondisi kualitas udara yang masih berubah-ubah membuat DLH mengingatkan masyarakat untuk mengurangi paparan asap, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker dan pelindung mata disarankan ketika kualitas udara kembali memburuk.
Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas. Kelompok tersebut disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
Untuk kegiatan sekolah, Chaizir menyebut pengaturannya berada pada kewenangan Dinas Pendidikan. DLH bersama sejumlah instansi terkait telah melakukan koordinasi untuk menentukan langkah apabila kualitas udara kembali memburuk.
“Sudah beberapa kali kami koordinasikan, baik dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, BPBD, BMKG dan pihak terkait lainnya. Masing-masing juga sudah memiliki strategi penanganan,” katanya.
Dari koordinasi tersebut, Dinas Kesehatan disebut mulai menyalurkan masker kepada masyarakat. Sementara Dinas Pendidikan telah menyiapkan opsi pembelajaran jarak jauh apabila kondisi udara kembali berada pada tingkat yang mengganggu aktivitas siswa.
“Dinas Pendidikan sudah merencanakan pembelajaran jarak jauh, tetapi belum dilaksanakan karena kondisi kualitas udara masih fluktuatif,” ujar Chaizir.
DLH juga telah menyiapkan surat edaran yang ditujukan kepada masyarakat. Namun, surat tersebut belum dirilis karena kondisi kualitas udara masih berubah dan belum menunjukkan tren kenaikan yang menetap.
Menurut Chaizir, surat edaran itu akan kembali didorong apabila hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara kembali memburuk, terutama jika berdampak terhadap aktivitas kelompok rentan dan anak sekolah.
“Kalau nanti terjadi tren kenaikan lagi dan perlu ada kebijakan terkait aktivitas masyarakat, terutama anak sekolah dan kelompok rentan, surat edaran itu akan kami sampaikan kembali. Kami melihat dulu perkembangan kondisi ke depannya,” pungkasnya. (saf)










