TARAKAN, Headlinews.id – Ongkos perjalanan laut menjadi salah satu pengeluaran yang ikut mendorong tekanan harga di Kalimantan Utara pada Agustus 2026. Kenaikan tarif angkutan laut tercatat memberi kontribusi paling besar terhadap inflasi bulanan dibanding sejumlah komoditas pangan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara Agus Taufik mengatakan inflasi Kaltara pada Agustus tercatat 2,17 persen secara tahunan. Secara bulanan, inflasi berada di level 0,23 persen, sedangkan secara tahun kalender mencapai 1,44 persen.
“Kalau kita lihat, pergerakan inflasi ini masih cukup terkendali. Memang ada beberapa komponen yang naik, tetapi ada juga komponen lain yang justru memberikan tekanan ke bawah. Jadi kita melihatnya tidak dari satu komoditas saja,” kata Agus.
Angkutan laut menjadi komponen dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,12 poin. Kontribusinya lebih tinggi dibanding daging ayam ras sebesar 0,05 poin, sawi 0,04 poin dan kangkung 0,03 poin.
Besarnya kontribusi tersebut berkaitan dengan peran transportasi laut dalam aktivitas masyarakat Kaltara. Jalur laut masih menjadi bagian penting dari konektivitas antardaerah, baik untuk mobilitas penumpang maupun pergerakan barang.
“Memang karakteristik Kaltara ini berbeda dengan daerah lain. Kita punya wilayah yang cukup luas dan konektivitas antardaerahnya banyak menggunakan transportasi laut. Jadi tarif angkutan itu perlu kita lihat karena ada kaitannya dengan aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Tekanan dari transportasi berlangsung bersamaan dengan pergerakan harga sejumlah kebutuhan pangan. Namun, beberapa komoditas justru menjadi penahan inflasi Agustus, yakni tomat, bawang merah, angkutan udara, bensin dan beras.
Agus menilai kondisi tersebut menggambarkan pergerakan inflasi yang cukup dinamis. Perubahan harga pada satu kelompok pengeluaran dapat tertahan oleh penurunan harga pada kelompok lainnya.
“Setiap bulan itu memang bisa berbeda. Ada komoditas yang bulan ini memberikan tekanan, bulan berikutnya bisa saja berubah. Karena itu kita perlu terus melihat pergerakannya, termasuk faktor apa yang menyebabkan harga itu naik atau turun,” jelasnya.
Di Tarakan, inflasi tahunan pada Agustus mencapai 2,91 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi Kaltara pada periode yang sama.
Karakteristik Tarakan sebagai daerah perkotaan dengan kebutuhan pasokan dari luar wilayah ikut menjadi perhatian. Pergerakan barang dari daerah pemasok menuju Tarakan membuat biaya transportasi dan distribusi mempunyai kaitan dengan harga di tingkat konsumen.
“Tarakan memang banyak menerima pasokan dari luar. Kondisi seperti ini membuat distribusi menjadi penting. Ketika biaya angkutan berubah, kita tentu perlu melihat apakah ada pengaruhnya terhadap harga barang yang masuk ke Tarakan,” kata Agus.
Pengendalian inflasi tidak hanya diarahkan pada komoditas yang mengalami kenaikan harga. BI bersama TPID Kaltara juga memantau faktor pendukungnya, termasuk transportasi dan distribusi.
Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat sumber tekanan secara lebih rinci. Dengan begitu, kenaikan pada komponen tertentu dapat diketahui penyebabnya dan tidak langsung dianggap sebagai tren kenaikan harga secara keseluruhan.
“Harus dilihat sumbernya. Apakah karena pasokan, distribusi, permintaan, atau faktor lainnya. Dari situ kita bisa menentukan apa yang perlu dilakukan. Jadi pengendalian inflasi memang harus berdasarkan kondisi di lapangan,” pungkas Agus. (rs)










