TARAKAN, Headlinews.id – Harga modal berbagai jenis kemasan plastik di Kota Tarakan mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga bahkan mencapai lebih dari 50 persen, sehingga mulai menekan distributor maupun pelaku usaha kecil yang bergantung pada produk kemasan.
Kenaikan tersebut sejalan dengan kondisi nasional, harga bahan baku plastik meningkat tajam akibat gangguan pasokan impor serta kenaikan biaya produksi global. Ketergantungan industri plastik dalam negeri terhadap bahan baku impor membuat fluktuasi harga cepat dirasakan hingga ke daerah.
Gangguan distribusi bahan baku petrokimia dunia akibat konflik Timur Tengah termasuk nafta dan resin plastik, menyebabkan produsen menaikkan harga modal kepada distributor. Dampaknya merambat ke wilayah Tarakan yang sebagian besar pasokan kemasan masih didatangkan dari luar daerah.
Salah satu distributor kemasan di Tarakan, Toko KA Mart (Kasih Anugerah Mart), mencatat lonjakan harga sebagai yang tertinggi sepanjang operasional usaha mereka.
Kepala Toko KA Mart, Jery mengatakan pihaknya terpaksa menyesuaikan harga jual karena kenaikan modal berasal langsung dari pabrik produsen.
“Kenaikannya saat ini sangat signifikan, berada di kisaran 50 persen ke atas. Ini bukan lagi kenaikan harga biasa, tetapi harganya sudah terbang tinggi,” ujar Jery saat ditemui di tokonya, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan perubahan harga paling terasa saat proses pemesanan ulang (open order), harga dari pabrik dapat berubah drastis dalam waktu singkat tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Dulu ada barang dengan harga modal Rp500 ribu per karung. Saat kami stok ulang, harganya sudah naik menjadi Rp900 ribu sampai Rp1 juta per karung. Selisihnya hampir dua kali lipat,” jelasnya.
Lonjakan harga modal tersebut berdampak langsung pada harga eceran. Plastik gelas (cup) yang sebelumnya dijual sekitar Rp8.000 per pak naik menjadi Rp12.000 agar distributor tetap dapat menjaga perputaran modal usaha.
Produk wadah makanan jenis thinwall yang banyak digunakan pelaku usaha kuliner juga mengalami kenaikan harga hingga menyentuh Rp32.000 per pak, dari sebelumnya berkisar Rp25.000 untuk kualitas serupa.
“Kami sebenarnya berat menaikkan harga setinggi ini, tapi kalau tidak disesuaikan, modal tidak berputar. Hampir semua lini produk mengalami kenaikan,” tambah Jery.
Menurutnya, kondisi ini mulai berdampak pada pola belanja pelanggan, terutama pelaku usaha kecil yang akhirnya mengurangi volume pembelian kemasan.
“Harapan kami harga bisa segera stabil kembali. Kalau terus naik seperti ini, kami khawatir daya beli masyarakat turun dan usaha kecil makin terbebani,” pungkasnya. (saf)










