TARAKAN, Headlinews.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu jarak pandang di wilayah perairan Tarakan. Kondisi tersebut membuat aktivitas pelayaran, khususnya nelayan, membutuhkan kewaspadaan lebih karena jarak pandang yang terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Kasat Polairud Polres Tarakan AKP Elga Elite Raga Satria meminta nelayan tidak mengabaikan faktor keselamatan saat melaut. Situasi perairan yang dipengaruhi asap perlu disikapi dengan menyesuaikan aktivitas dan memastikan perlengkapan keselamatan tersedia.
“Sekarang banyak fenomena kebakaran hutan yang menyebabkan kabut di sekitar perairan laut. Saya harapkan para nelayan mengutamakan keselamatan, berhati-hati dalam melakukan aktivitas karena jarak pandang terbatas, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Elga, Rabu (19/8/2026).
Kondisi jarak pandang menjadi semakin penting diperhatikan ketika aktivitas berlangsung pada sore hingga malam. Asap dapat memengaruhi pandangan sehingga nelayan berisiko terlambat melihat perahu lain maupun benda yang berada di jalur pelayaran.
Satpolairud Polres Tarakan tetap melakukan patroli rutin setiap hari melalui kegiatan KRYD. Petugas berkeliling di wilayah perairan sekaligus menyampaikan imbauan keselamatan kepada masyarakat.
“Patroli rutin kita lakukan. Satpolairud juga rutin melakukan patroli keliling untuk melaksanakan KRYD dan memberikan imbauan kepada masyarakat. Setiap hari kita lakukan,” ujarnya.
Bagi nelayan yang beraktivitas pada malam hari, penggunaan lampu penerangan menjadi hal yang wajib diperhatikan. Lampu membantu menunjukkan posisi perahu dan memberikan pandangan terhadap kondisi di sekitar jalur pelayaran.
Elga mengingatkan, perahu tanpa penerangan dalam kondisi jarak pandang terbatas dapat meningkatkan risiko tabrakan. Ancaman tidak hanya datang dari perahu lain, tetapi juga benda-benda yang berada di laut.
“Kalau aktivitas malam diusahakan menggunakan lampu penerangan. Jangan sama sekali tidak menggunakan penerangan karena sangat berbahaya. Bisa terjadi tabrakan antarperahu atau bahkan menabrak benda-benda yang ada di laut, baik sampah ataupun kayu dan lain sebagainya,” katanya.
Selain penerangan, nelayan diminta membawa life jacket setiap kali melakukan aktivitas di laut. Perlengkapan tersebut penting sebagai alat keselamatan apabila terjadi kondisi darurat.
“Jangan lupa juga untuk para nelayan dalam melakukan kegiatan tetap membawa life jacket. Apabila ada satu hal yang tidak kita inginkan, setidaknya ada penyelamat untuk diri kita sendiri,” ujar Elga.
Aspek lain yang diminta diperhatikan adalah kapasitas muatan. Nelayan diminta menghitung barang yang dibawa agar tidak melebihi kemampuan angkut perahu.
Muatan berlebih dapat memengaruhi kondisi perahu dan membahayakan orang yang berada di dalamnya. Karena itu, keselamatan perlu menjadi pertimbangan sebelum meninggalkan daratan.
“Kalau membawa barang sesuatu jangan sampai melebihi kapasitas. Itu bisa membahayakan diri sendiri dan akan merugikan untuk diri sendiri,” tuturnya.
Wilayah kerja Satpolairud Polres Tarakan mencakup seluruh kawasan perairan di Pulau Tarakan. Petugas membuka akses bagi masyarakat yang mengalami hambatan atau kendala saat beraktivitas di laut.
Masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui layanan kepolisian 110 atau datang langsung ke Satpolairud Polres Tarakan. Bantuan tersebut diberikan tanpa pungutan biaya.
“Apabila masyarakat ada hambatan atau kendala, silakan dilaporkan kepada kita. Gratis tanpa dipungut biaya. Kita siap melayani masyarakat. Apabila situasi ini aman dan tenteram, kita pun sangat berterima kasih dan bersyukur bisa bermanfaat untuk masyarakat,” pungkas Elga. (saf)










