TARAKAN, Headlinews.id – Jadwal penyelenggaraan Festival Iraw Tengkayu dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami penyesuaian. Setelah bergeser dari Desember ke Oktober hingga akhirnya digelar pada Juli tahun ini.
Pemerintah Kota Tarakan kembali akan mengevaluasi waktu pelaksanaan festival guna menentukan jadwal yang paling ideal bagi penyelenggaraan maupun partisipasi masyarakat.
Wali Kota Tarakan, Khairul, mengatakan perubahan jadwal dilakukan agar Festival Iraw Tengkayu tidak berbenturan dengan agenda budaya di kabupaten dan kota lain di Kalimantan Utara.
Dengan demikian, masyarakat maupun wisatawan memiliki kesempatan untuk saling mengunjungi berbagai festival yang digelar di masing-masing daerah.
“Harapan kita masyarakat Tarakan bisa mengunjungi kabupaten lain, kabupaten lain juga bisa mengunjungi kita. Kalau bersamaan tentu agak sulit,” katanya, usai membuka Festival Budaya Iraw Tengkayu di depan Stadion Datu Adil, Sabtu (4/6/2026).
Ia menjelaskan, jadwal penyelenggaraan Iraw Tengkayu telah dua kali mengalami penyesuaian. Festival yang semula direncanakan berlangsung pada Desember kemudian dimajukan ke Oktober.
Namun setelah dievaluasi, pelaksanaannya kembali dipindahkan ke Juli karena sejumlah daerah di Kalimantan Utara juga menggelar festival pada Oktober.
“Ini sudah dua kali kita reschedule. Dulunya Desember, kemudian Oktober. Ternyata kabupaten lain juga hampir semuanya melaksanakan kegiatan pada bulan yang sama, sehingga kita majukan lagi ke Juli,” ujarnya.
Menurut Khairul, pemilihan Juli juga didasari harapan agar momentum libur sekolah dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Tarakan.
Dengan jadwal yang tidak bersamaan, masyarakat dari daerah lain diharapkan dapat datang menikmati Festival Iraw Tengkayu, begitu pula sebaliknya.
Namun, pelaksanaan pada masa libur sekolah ternyata berdampak pada menurunnya partisipasi sejumlah sekolah dalam pawai budaya. Kondisi tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi untuk penyelenggaraan tahun berikutnya.
“Mungkin ke depan tetap bulan Juli, tetapi di awal-awal anak-anak masuk sekolah sehingga tidak mengganggu pelajaran mereka dan mereka juga bisa berpartisipasi secara maksimal,” tuturnya.
Selain mempertimbangkan kalender pendidikan dan agenda daerah lain, penentuan jadwal Festival Iraw Tengkayu juga harus disesuaikan dengan kondisi pasang surut air laut.
Faktor tersebut menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan prosesi adat pelarungan Padaw Tuju Dulung.
Menurut Khairul, pelarungan tidak dapat dilakukan saat air terlalu surut maupun terlalu pasang. Karena itu, pemerintah terlebih dahulu mempelajari kalender pasang surut sebelum menetapkan waktu pelaksanaan.
“Kalau surut nanti susah melarungnya, kalau terlalu tinggi juga berbahaya bagi peserta. Jadi kita melihat kalender air untuk menentukan waktu yang paling tepat,” jelasnya.
Ia menegaskan, penetapan jadwal Iraw Tengkayu tidak dilakukan secara sepihak oleh pemerintah daerah.
Pemkot akan terus berkoordinasi dengan tokoh dan lembaga adat agar pelaksanaan festival tetap sesuai dengan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Kita selalu menyesuaikan dan pasti berkoordinasi dengan ketua-ketua adat. Jadi mencari waktunya juga melihat kalender air, kalau sudah pas, itulah yang kita ambil,” pungkasnya. (saf/rs)








